Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Buzzer Propaganda Israel Ngamuk Karena Belum Dibayar

Buzzer Propaganda Israel Ngamuk Karena Belum Dibayar


Tim - detikInet

BERLIN, GERMANY - SEPTEMBER 17:  German politician Christian Lindner of the FDP political party uses an Apple iPhone as he attends the Walther Rathenau Award ceremony on September 17, 2015 in Berlin, Germany. The award is in recognition of foreign policy achievements and Queen Ranias efforts on behalf of refugees and children.  (Photo by Sean Gallup/Getty Images)
Buzzer Propaganda Israel Ngamuk Karena Belum Dibayar. Foto: GettyImages
Jakarta -

Mantan pegawai direktorat diplomasi publik nasional Israel, lembaga yang mengawasi propaganda Israel, menuntut bayaran atas pekerjaan yang belum dibayar sejak Oktober 2023, menurut laporan harian Israel, Calcalist.

Dikenal dengan nama Hasbara, direktorat tersebut tengah dituntut oleh berbagai perusahaan dan kontraktor yang menyediakan layanan pada bulan-bulan pertama genosida Israel di Gaza, menyusul serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023.

Dua perusahaan swasta, yang menyediakan studio bagi pemimpin Israel dan mendanai aktivisme di Eropa, secara total menuntut bayaran USD 650.000.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Eylon Levy, tokoh keturunan Inggris-Israel yang menjabat jubir resmi pemerintah hingga Maret 2024, mengatakan meskipun ia juga belum dibayar, ia sudah lelah berusaha menagihnya dan tidak ikut serta dalam gugatan.

Juru bicara Levy mengonfirmasi hal ini kepada Middle East Eye yang dikutip detiKINET. Meskipun tidak lagi bekerja secara resmi untuk pemerintah Israel, influencer yang menempuh pendidikan di Universitas Oxford tersebut masih melanjutkan pekerjaan Hasbara-nya hingga hari ini.

ADVERTISEMENT

"Pemerintah Inggris benar-benar menyangkal bahwa Iran telah menyerang Inggris. Mereka mencoba membunuh tentara Inggris," tulis Levy di akun X, merujuk pada rudal yang ditembakkan ke pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) Akrotiri di Siprus.

Propaganda Israel

Menurut laporan Calcalist, puluhan aktivis dan kontraktor independen Hasbara dipekerjakan setelah 7 Oktober, karena direktorat Hasbara kekurangan staf. Beberapa aktivis dan influencer tidak dipekerjakan secara resmi, melainkan melalui kontraktor swasta.

Satu perusahaan, yang menyediakan studio khusus wawancara bagi PM Benjamin Netanyahu dan mantan Menhan Yoav Gallant, kini menuntut lebih dari USD 160.000) atas pekerjaan yang belum dibayar. Perusahaan lain bernama Intellect, menuntut lebih dari USD 487.000.

Menurut Calcalist, perusahaan tersebut mendanai penerbangan ke Den Haag, yang digunakan oleh para aktivis influencer untuk menentang demonstrasi pro-Palestina menjelang sidang di pengadilan.

Sejak Oktober 2023, upaya Hasbara juga dilakukan kementerian luar negeri dan kementerian diaspora. Keduanya menggelontorkan dana besar untuk menyebarkan propaganda Israel guna menyangkal tuduhan kejahatan perang, kejahatan kemanusiaan, dan genosida.

September lalu, pemerintah Israel menyetujui tambahan anggaran USD 49 juta untuk upaya Hasbara di kementerian luar negeri, yang ditambahkan ke anggaran yang sudah ada sebesar USD 170 juta.

Pada bulan yang sama, kementerian luar negeri mendirikan direktorat diplomasi publik baru, yang diharapkan dapat mempekerjakan blogger dan influencer media sosial, seiring dengan anggapan di Israel bahwa upaya Hasbara telah gagal.

Di Juni 2024, terungkap Menteri Urusan Diaspora Amichai Chikli memimpin kampanye Hasbara yang menargetkan kampus-kampus di AS dan berupaya mendefinisikan ulang antisemitisme dalam hukum AS.




(fyk/fyk)






Hide Ads