Riset: Dinosaurus Punah Bukan Dihantam Asteroid, Tapi...

Riset: Dinosaurus Punah Bukan Dihantam Asteroid, Tapi...

Fino Yurio Kristo - detikInet
Rabu, 17 Mar 2021 19:10 WIB
Artists life reconstruction of the titanosaurian dinosaur Mansourasaurus shahinae on a coastline in what is now the Western Desert of Egypt approximately 80 million years ago is pictured in this undated handout image obtained by Reuters on January 29, 2018.   Andrew McAfee/Carnegie Museum of Natural History/Handout via REUTERS  ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY.  NO RESALES. NO ARCHIVE. NO SALES     TPX IMAGES OF THE DAY
Zaman dinosaurus (Foto: Andrew McAfee/Carnegie Museum of Natural History/Handout via REUTERS)
Jakarta -

Pada sekitar 66 juta tahun silam, dinosaurus yang menguasai Bumi mendadak punah. Kebanyakan ilmuwan meyakini penyebabnya adalah hantaman benda antariksa yang adalah asteroid. Akan tetapi penelitian terbaru oleh akademisi Harvard menyuguhkan teori lain.

Seperti dikutip detikINET dari CNN, Rabu (17/3/2021) studi yang telah dipublikasikan di jurnal Scientific Reports ini mengutarakan bahwa bukan asteroid yang menyebabkan dinosaurus lenyap melainkan komet.

Komet itu menyebabkan kawah yang sekarang dikenal dengan nama Chicxulub di semenanjung Yucatan, Meksiko. "Di langit seharusnya terjadi pemandangan indah, namun kesenangan berakhir begitu batu itu menabrak daratan," kata profesor sains Harvard, Abraham Loeb.

Dalam teori ini, komet berasal dari Oort Cloyd, sekelompok obyek es yang berlokasi di tepi Tata Surya kita. Komet sendiri adalah benda langit, kebanyakan terbuat dari gas beku, sementara asteroid adalah batu yang kebanyakan berada di Sabuk Asteroid di antara Mars dan Jupiter.

Peluang hantaman asteroid besar yang dapat mengakibatkan kawah seluas Chicxulub adalah satu setiap 350 juta tahun. Sedangkan komet jauh lebih langka, sekali dalam 3,8 sampai 11 miliar tahun. Berarti jika benar, para dinosaurus itu sedang sangat sial.

Lantas bagaimana skenarionya? Saat komet menjelajah pusat Tata Surya dari Oort Cloud, kekuatan gravitasi Jupiter memberikannya tambahan kecepatan untuk mencapai Matahari.

"Jupiter bertindak seperti mesin pinball. Ketika sesuatu mendekat padanya, ia bisa memberikan 'tendangan'," cetus sang profesor.

Saat akan ke Matahari, giliran kekuatan gravitasi Sang Surya membelah komet itu sampai menjadi beberapa bagian. Karena jadi ada banyak komet, maka lebih besar peluang menghantam Bumi dan begitulah yang terjadi menurut teori ini.

Namun demikian, teori baru ini tidak disepakati ilmuwan lain yang masih yakin asteroid adalah biang kepunahan dinosaurus. Misalnya elemen kimia Iridium menurut riset tersebar ke banyak bagian Bumi setelah tabrakan, di mana Iridium turut ada di asteroid.

Kemudian, kepingan komet kemungkinan cukup kecil untuk bisa menciptakan kawah dengan luas semasif kawah tersebut dan memicu dampak dahsyat bagi Bumi, membuat riwayat dinosaurus berakhir. Anda percaya teori yang mana, detikers?



Simak Video "NASA Akan Membawa Asteroid ke Bumi untuk Diteliti"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)