Mengapa Aku Tidak Bahagia?

Mengapa Aku Tidak Bahagia?

Aisyah Kamaliah - detikInet
Rabu, 23 Des 2020 05:40 WIB
Asian women are sitting hugging their knees in bed. Feeling sad, disappointed in love In the dark bedroom and sunlight from the window through the blinds.Vintage tone.
Ilustrasi tidak bahagia. Foto: iStock
Jakarta -

Hidup di dunia berisi dengan beragam emosi, tidak selamanya menyenangkan tapi mengapa terasa tidak pernah bahagia? Menurut sains psikologi, ada beberapa kemungkinan mengapa kamu diliputi pertanyaan tersebut.

Guy Winch, psikolog dan penulis 'Emotional First Aid: Healing Rejection, Guilt, Failure, and Other Everyday Hurts' menjelaskan bahwa kesedihan adalah emosi manusia yang normal. Kita semua bisa sedih dari waktu ke waktu.

"Kesedihan biasanya dipicu oleh peristiwa, pengalaman, atau situasi yang sulit, menyakitkan, menantang, atau mengecewakan," tambahnya.

Seringkali, kesedihan akan menghilang setelah keadaan yang memicu berakhir atau hilang. Namun berbeda jika Anda mengalami depresi.

"Saat kita depresi kita merasa sedih tentang segalanya," jelas Winch. Seperti kesedihan, depresi juga biasa terjadi. Namun, ini adalah gangguan mood yang besar yang harus dievaluasi oleh ahli medis.

Dikutip dari The List, Rabu (23/12/2020) berikut ini beberapa kemungkinan yang ada. Semoga setelah membaca ini masalah Anda dapat selesai dan Anda dilimpahkan kebahagiaan ya, detikers.

1. Anda tidak hidup di masa sekarang

Dari semua alasan kita mengalami kesedihan, pelatih dan terapis Jennifer Twardowski berpendapat bahwa hidup di masa lalu atau masa depan mungkin adalah yang paling berpengaruh pada kebahagiaan kita.

"Kenyataannya dengan memusatkan perhatian kita pada masa lalu dan masa depan, yang dilakukannya hanyalah mencegah kita untuk benar-benar hidup dan menikmati saat ini, yang mana merupakan kunci untuk benar-benar hidup dan berada di tempat penuh kegembiraan dan kebahagiaan sejati," tulis Twardowski dalam artikel untuk HuffPost.


2. Kebanyakan main medsos

The Happiness Research Institute melakukan 'Eksperimen Facebook' untuk menemukan seberapa besar pengaruh media sosial terhadap penggunanya. Separuh dari partisipan percobaan diinstruksikan untuk menggunakan Facebook seperti biasa sementara separuh lainnya tidak menggunakan Facebook sama sekali selama satu minggu.

Pada akhirnya, mereka yang tidak menggunakan Facebook melaporkan merasa lebih bahagia, tidak terlalu sedih, dan tidak terlalu kesepian. Mereka juga melaporkan tingkat kepuasan yang jauh lebih tinggi dengan kehidupan mereka secara keseluruhan. Para peneliti menentukan bahwa pengguna Facebook 55% lebih mungkin untuk merasa stres.

Halaman selanjutnya: emosi dan lingkungan negatif...

3. Terlalu dikontrol oleh emosi sendiri

Ya, Anda harus bisa merasakan emosi yang ada, tetapi Anda tidak harus dikendalikan olehnya. Jika Anda membiarkan emosi negatif mengambil alih, ketidakbahagiaan pasti akan menyusul.

"Gunakan pikiran Anda sehingga berguna bagi Anda," psikolog Carolin Müller menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan Insider.

"Dan lihat apa yang bisa dilakukannya, sungguh menakjubkan, Anda bisa memecahkan teka-teki yang paling menakjubkan, Anda bisa membuat teka-teki silang ... Kita bisa pergi ke Mars karena kita punya otak dan pikiran, namun itu juga membuat orang mengira mereka begitu tak berguna," ujarnya.

4. Dikelilingi hal negatif

"Anda harus berusaha untuk mengelilingi diri Anda dengan orang-orang yang menginspirasi Anda, orang-orang yang membuat Anda ingin menjadi lebih baik," Travis Bradberry, penulis Emotional Intelligence 2.0, menjelaskan dalam sebuah artikel untuk Forbes.

"Siapapun yang membuat Anda merasa tidak berharga, cemas, atau tidak terinspirasi adalah membuang-buang waktu Anda dan, sangat mungkin, membuat Anda lebih seperti mereka. Hidup ini terlalu singkat untuk bergaul dengan orang-orang seperti ini. Lepaskan mereka dan lihat kecerdasan emosional Anda meningkat," sarannya.

(ask/fay)