Riset: Sebagian Orang Sudah Punya Antibodi COVID-19 Sebelum Pandemi

Riset: Sebagian Orang Sudah Punya Antibodi COVID-19 Sebelum Pandemi

Aisyah Kamaliah - detikInet
Kamis, 12 Nov 2020 16:29 WIB
Business woman with drawn powerful hands
Riset mengungkap adanya orang yang memiliki antibodi virus corona jauh sebelum pandemi muncul Desember 2019. Foto: Thinkstock
Jakarta -

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa sebagian kecil dari populasi membawa antibodi yang merespons virus corona, jauh sebelum COVID-19 yang muncul akhir tahun lalu.

Penelitian tersebut menunjukkan beberapa orang mungkin memiliki tingkat kekebalan yang sudah ada sebelumnya terhadap virus corona diakibatkan serangan sebelumnya dari flu biasa yang disebabkan oleh virus terkait. Namun, meskipun mungkin temuan ini dapat membantu menjelaskan beberapa tren pandemi, masih belum jelas seberapa protektif kekebalan yang didapatkan orang-orang tersebut.

Mengutip Gizmodo, Kamis (12/11/2020) riseti baru yang diterbitkan di Science menguji sampel darah yang dikumpulkan dari orang dewasa dan anak-anak di Inggris sebelum dimulainya pandemi pada Desember 2019, serta dari orang-orang di awal pandemi yang dites negatif untuk SARS-CoV-2. Sampel ini dibandingkan dengan orang yang telah terkonfirmasi terjangkit COVID-19.

"Hasil kami dari beberapa tes independen menunjukkan adanya antibodi yang sudah ada sebelumnya yang mengenali SARS-CoV-2 pada individu yang tidak terinfeksi," tulis para peneliti.

Meski demikian, para peneliti masih belum tahu apa-apa terkait temuan ini dan efeknya terhadap perlindungan orang yang memiliki antibodi ini terkait COVID-19. Akan tetapi, temuan ini bisa menjadi jalan untuk segera menemukan vaksin COVID-19 yang efektif.

"Kami masih belum tahu apa-apa tentang perlindungan, meskipun sejumlah kelompok menunjukkan reaktivitas silang. Epidemiologi menunjukkan bahwa reaktivitas silang tidak mungkin mencegah infeksi atau penyebaran - paling banter dapat mengubah gejala," kata penulis utama Kevin Ng, mahasiswa PhD dan peneliti virus di Francis Crick Institute di London.

"Kami sedang bekerja untuk mencari tahu mengapa beberapa orang membuat antibodi reaktif silang dan beberapa lainnya tidak. Jika kami dapat mengetahuinya, kami dapat menggunakan informasi itu untuk vaksin," tandasnya.



Simak Video "Relawan Ceritakan Efek Samping yang Dialami dari Vaksin Pfizer"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)