Matahari Masuki Siklus Baru, Apa Artinya?

Matahari Masuki Siklus Baru, Apa Artinya?

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 18 Sep 2020 09:00 WIB
Matahari
Foto: NASA
Jakarta -

Matahari kita mengalami siklus aktivitas 11 tahunan secara teratur, yang diukur dari minimum ke minimum. Apa artinya?

Para ahli astronomi internasional telah mengonfirmasi bahwa Matahari saat ini telah memasuki siklus baru, setelah siklus sebelumnya mencapai minimum pada Desember 2019.

Dikutip dari IFL Science, saat ini kita memasuki apa yang disebut para ilmuwan Solar Cycle 25, siklus Matahari yang ke-25 sejak pencatatan aktivitas Matahari dimulai.

Siklus alaminya cukup teratur, mengalami aktivitas tenang dan badai yang berlangsung kira-kira 11 tahun. Tapi selama beberapa abad terakhir, ada pengecualian untuk aturan ini.

Tingkat aktivitas juga berubah, membuat prediksi dan konfirmasi dari siklus minimum dan maksimum menjadi sulit. Karenanya, siklus ini baru diumumkan kemarin, padahal minimum terjadi pada bulan Desember.

"Hal terpenting untuk diingat terkait dengan prediksi adalah, Anda bisa salah," kata Dean Pesnell, pakar siklus Matahari di Goddard Space Flight Center NASA.

"Anda tidak akan pernah memprediksinya dengan sempurna. Apa yang dipelajari dari siklus Matahari, yang memungkinkan Anda membuat kemajuan dalam prediksi Anda," sambungnya.

Untuk membantu mengetahui kapan siklus telah berakhir dan siklus baru telah dimulai, para peneliti menggunakan bintik Matahari sebagai proxy yang nyaman untuk aktivitas.

Ini terkait dengan peristiwa seperti semburan Matahari dan pelepasan massa koronal. Jadi semakin sedikit titik yang diamati, semakin tenang Matahari.

Menuju tingkat minimum, Matahari bertahan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan tanpa ada bercak hitam di permukaannya. Tapi para ilmuwan hanya dapat mengonfirmasi bahwa jumlah minimum terlampaui ketika aktivitas dan jumlah bintik Matahari mulai meningkat lagi. Jadi, wajar jika perlu waktu berbulan-bulan untuk menentukan titik minimalnya.

Panel penelitian internasional menggunakan pengamatan yang dikumpulkan oleh World Data Center for the Sunspot Index and Long-term Solar Observations yang ada di Observatorium Kerajaan Belgia. Dengan data itu, mereka memprediksi maksimum Matahari berikutnya akan terjadi pada Juli 2025.

"Saat kita keluar dari minimum Matahari dan mendekati maksimum Solar Cycle 25, penting untuk diingat bahwa aktivitas Matahari tidak pernah berhenti, dan berubah bentuk saat pendulum berayun," kata Lika Guhathakurta, ilmuwan ahli Matahari di Heliophysics Division di NASA.

Solar Cycle 25, diprediksi memiliki tingkat aktivitas yang sama dengan Solar Cycle 24, yang sebenarnya lebih lemah dari rata-rata. Apakah dengan Matahari lebih kalem, tidak ada risiko berbahaya mengintai?

Untuk diketahui, aktivitas Matahari membentuk cuaca antariksa di sekitar planet kita dan pelepasan jilatan api Matahari yang kuat dapat mengganggu satelit komunikasi dan membahayakan teknologi di Bumi.

"Jika siklus Matahari di bawah rata-rata, bukan berarti tidak ada risiko cuaca luar angkasa yang ekstrem," kata Doug Biesecker, co-chair panel penelitian dan fisikawan Matahari di Space Weather Prediction Center (SWPC) NOAA.

"Dampak Matahari pada kehidupan kita sehari-hari adalah nyata dan ada. Staf SWPC siaga setiap hari selama 24 jam karena Matahari selalu memberi kami sesuatu untuk diramalkan," tambahnya.

Dalam catatan, badai geomagnetik terkuat yang pernah terjadi adalah peristiwa Carrington tahun 1859. Saat itu, jilatan api Matahari besar-besaran melemparkan begitu banyak partikel berenergi tinggi ke arah Bumi sehingga cahaya utara dan selatan terlihat dari kutub ke daerah tropis.

Partikel bermuatan ini juga menyebabkan kebakaran di stasiun telegraf dan mengejutkan operator di seluruh AS dan Eropa. Karenanya, para ilmuwan tak boleh lengah mengawasi aktivitas Matahari.



Simak Video "Matahari di Fase Lockdown, Bumi Disebut Terancam Berbahaya "
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)