Gawat, 28 Triliun Ton Es Lenyap dari Bumi

Gawat, 28 Triliun Ton Es Lenyap dari Bumi

Fino Yurio Kristo - detikInet
Selasa, 25 Agu 2020 07:45 WIB
Gletser Antartika Meleleh, Ternyata Ada Pulau Tersembunyi!
Gawat, 28 Triliun Ton Es Lenyap dari Bumi. Foto: Daily Mail
London -

Total 28 triliun ton es telah lenyap dari permukaan Bumi sejak tahun 1994 sampai tahun 2017, atau dalam kurun waktu kurang dari 30 tahun. Itulah kesimpulan cukup mengerikan dari riset yang dilakukan oleh ilmuwan dari berbagai universitas di Inggris.

Dikutip detikINET dari Guardian, mereka menggelar survei kutub Bumi, pegunungan dan gletser dari citra satelit, untuk mengukur seberapa banyak es mencair karena pemanasan global yang dipicu oleh emisi gas rumah kaca.

Mereka menyebut kesimpulan itu mengkhawatirkan, mengindikasikan bahwa kenaikan level air laut, yang disebabkan oleh pencairan gletser dan es, nantinya bisa mencapai 1 meter. Jika perkiraan itu benar, maka masyarakat pesisir terancam bahaya.

"Sebagai konteks, kenaikan 1 cm air laut berarti sekitar 1 juta orang akan terdampak dari tanah air mereka," sebut profesor Andy Shepherd dari Leeds University.

Selain itu, mencairnya es dalam kuantitas besar dapat mengganggu kemampuan planet ini dalam memantulkan radiasi Matahari ke antariksa, sehingga Bumi bisa makin panas.

Makhluk yang mendiami Kutub Utara ataupun Kutub Selatan juga terancam sedangkan hilangnya gletser di pegunungan dapat mengancam sumber air bagi sebagian masyarakat.

"Di masa silam, periset mempelajari area tertentu seperti Antartika atau Greenland. Tapi inilah kali pertama diamati lenyapnya es dari seluruh planet. Apa yang kami temukan mengejutkan," cetus Sheperd.

Para peneliti meriset satelit di gletser yang ada di Amerika Selatan, Asia, Kanada dan wilayah lainnya. Tentu saja juga di Akrtik, Antartika dan Greenland. Sampai saat ini, pencairan es terus berlanjut. Mereka meyakini penyebabnya adalah perubahan iklim.

"Hanya ada sedikit keraguan bahwa mayoritas besar lenyapnya es di Bumi adalah konsekuensi langsung dari pemanasan iklim," tulis mereka dalam jurnal Cryosphere Discussions.



Simak Video "Es Kapal, Es Jadul di Solo yang Eksis Sejak Tahun 1950-an"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/rns)