Era PC dan tablet murah diperkirakan segera berakhir. Sejumlah firma riset pasar memprediksi pengiriman PC global akan turun tajam pada 2026 karena kenaikan harga komponen, terutama memori.
Menurut laporan terbaru dari IDC, Omdia, dan Gartner, pasar PC diperkirakan menyusut antara 10% hingga 12% pada 2026. IDC memperkirakan penurunan sekitar 11%, Omdia 12%, sementara Gartner memproyeksikan 10%.
Ketiga lembaga tersebut sepakat bahwa lonjakan harga RAM -- yang sering disebut sebagai fenomena RAMaggedon di industri -- menjadi faktor utama di balik revisi tajam proyeksi tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan harga memori membuat biaya produksi perangkat meningkat signifikan, terutama untuk PC kelas bawah yang selama ini dijual dengan margin tipis.
Akibatnya, segmen PC entry-level dengan harga di bawah USD 500 (sekitar Rp 7,8 juta) diperkirakan akan semakin sulit dipertahankan, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Jumat (13/3/2026).
Menurut Gartner, segmen tersebut bahkan berpotensi hilang sepenuhnya pada 2028 karena produsen tidak lagi mampu menjaga harga tetap rendah di tengah lonjakan biaya komponen.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pasar PC. Smartphone juga diperkirakan menghadapi tekanan serupa karena menggunakan komponen memori yang sama.
Situasi ini berpotensi memperlambat pertumbuhan pasar perangkat elektronik secara keseluruhan setelah sempat pulih dari penurunan pascapandemi.
Selain faktor memori, analis juga mencatat bahwa proyeksi tersebut belum memasukkan dampak geopolitik terbaru, termasuk konflik yang melibatkan Iran. Ketegangan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan bahan baku, yang pada akhirnya bisa semakin meningkatkan biaya produksi perangkat teknologi.
Jika tekanan biaya terus meningkat, industri PC kemungkinan akan bergerak ke arah produk dengan harga lebih tinggi dan margin yang lebih besar, sementara perangkat murah semakin jarang ditemukan di pasar.
(asj/fay)

