Rambut Manusia Bisa Jadi Bahan untuk Layar Fleksibel

Rambut Manusia Bisa Jadi Bahan untuk Layar Fleksibel

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 24 Jun 2020 10:20 WIB
Happy woman sitting at beauty salon, making beautiful evening hairstyle with curls, copy space
Foto: iStock
Jakarta -

Para peneliti dari Queensland University of Technology (QUT), Australia, bekerja sama dengan barbershop setempat, mengubah limbah potongan rambut menjadi layar fleksibel untuk gadget.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal ilmiah Advanced Materials ini, tim 'memecah' limbah rambut manusia sebelum membakarnya pada suhu 240 derajat Celcius.

Setelah dipanaskan, rambut yang terdiri dari protein, termasuk keratin, dipecah lebih lanjut hingga yang tersisa hanya bahan mengandung karbon dan nitrogen. Dua bahan ini adalah elemen kunci untuk mendapatkan partikel yang bisa memancarkan cahaya.

Kemudian karbon nanodot yang diekstraksi berukuran sepersejuta milimeter dikelompokkan menjadi 'pulau nano'. Nah, pulau-pulau nano ini ketika digabungkan akan membentuk lapisan aktif untuk perangkat organic light-emitting diode (OLED).

Seperti dikutip dari IFL Science, ini berarti ketika tegangan kecil diterapkan ke perangkat, display akan menyala dengan warna biru. Meski tidak cukup terang untuk digunakan di layar televisi, fleksibilitas display ini berpotensi dipakai untuk kegunaan lain termasuk wearable gadget, smart packaging, dan perangkat pintar masa depan.

"Limbah adalah masalah besar. Perangkat yang bisa memancarkan cahaya organik berbasis karbon dot dari rambut manusia dapat dipakai untuk banyak kegunaan," kata Professor Prashant Sonar dari QUT yang memimpin peneltian ini.

"Jenis display ini juga dapat digunakan di kondisi yang memerlukan sedikit sumber cahaya misalnya untuk gelang pintar atau perangkat medis karena bahannya tidak beracun," sambungnya.

Penelitian lebih lanjut bahkan dilakukan oleh tim ilmuwan yang sama. Dalam riset yang diterbitkan di jurnal Sustainable Materials and Technologies, mereka menuliskan bahwa nanodot material karbon yang diturunkan dari rambut punya daya respons dan sensitivitas tinggi terhadap keberadaan kloroform.

Karenanya, bahan tersebut juga berpotensi menjadi sensor pintar untuk melakukan pemantauan kadar kloroform secara real-time dalam sistem pengolahan air.

"Penciptaan material berharga dari limbah rambut manusia ini memiliki potensi untuk digunakan untuk display fleksibel atau sensor penginderaan, sehingga terbuka juga peluang untuk teknologi material berkelanjutan," tutup Sonar.



Simak Video "Kerajinan Manik-manik dari Limbah Keramik dan Kaca, Jombang"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)