Pendiri Signal Beberkan Keburukan Telegram

Pendiri Signal Beberkan Keburukan Telegram

Fino Yurio Kristo - detikInet
Senin, 27 Des 2021 08:15 WIB
LONDON, ENGLAND - MAY 25:  A close-up view of the Telegram messaging app is seen on a smart phone on May 25, 2017 in London, England. Telegram, an encrypted messaging app, has been used as a secure communications tool by Islamic State. (Photo by Carl Court/Getty Images)
Aplikasi Telegram. Foto: Carl Court/Getty Images
Jakarta -

Telegram dipandang sebagai salah satu layanan messaging paling aman. Akan tetapi pendapat tersebut dibantah oleh pendiri Signal, Moxie Marlinspike.

Menurut dia dalam cuitan di Twitter, tidak ada pilihan lebih buruk selain Telegram jika berbicara mengenai pengumpulan data dan privasi. Ia pun heran kenapa Telegram bisa mendapatkan reputasi sebagai layanan dengan enkripsi atau penyandian penuh.

"Mengherankan bagiku bahwa setelah semua ini, hampir semua liputan media masih menganggapnya sebagai messenger yang terenkripsi," cuitnya.

"Telegram memang punya banyak fitur menarik, namun dalam hal privasi dan koleksi data, tidak ada pilihan yang lebih buruk," klaim dia.

Marlinspike memaparkan bahwa Telegram menyimpan kontak user, grup, media dan semua pesan yang terkirim atau diterima dalam plaintext di server mereka.

"Aplikasi di ponsel kalian hanyalah untuk melihat apa yang ada di server mereka, di mana sesungguhnya data berada. Hampir semua yang kalian lihat di aplikasi, Telegram juga melihatnya," bebernya.

Memang beberapa orang tidak keberatan atau menganggap hal itu sebagai masalah lantaran percaya pada Telegram. Namun bukan itu poinnya karena privasi yang sebenarnya adalah pesan seharusnya hanya bisa dibaca oleh pengirim dan penerimanya.

"Teknologi privasi yang sesungguhnya adalah tidak mempercayai pihak lain dengan data kalian. Ini tentang pesan yang kalian kirim seharusnya hanya bisa dibaca oleh kalian dan penerimanya," lanjutnya.

Signal sendiri menerapkan enkripsi semacam itu di mana pesan hanya dapat dilihat oleh pengirim dan penerima. Demikian pula WhatsApp yang menerapkan protokol Signal. Bahkan pesan Marlinspike di-retweet oleh bos WhatsApp, Will Catchcart.

Memang meskipun Telegram menggunakan enkripsi client-to-server, tapi percakapan di dalamnya tidak dilindungi enkripsi end-to-end secara default. Artinya, secara teknis siapapun yang bisa mengakses server Telegram bisa membaca percakapan pengguna.



Simak Video "Telegram Sambut 70 Juta Pengguna Baru Usai WhatsApp Down"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/afr)