Satelit HBS Senilai Rp 5,2 Triliun, Hati-hati Utang Negara

Satelit HBS Senilai Rp 5,2 Triliun, Hati-hati Utang Negara

Agus Tri Haryanto - detikInet
Senin, 21 Mar 2022 19:46 WIB
Satelit Republik Indonesia alias Satria yang akan membantu menyebarkan akses internet di wilayah Indonesia.
Foto: Dok. Bakti Kominfo
Jakarta -

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah melakukan pengadaan satelit Hot Backup Satellite (HBS) senilai Rp5,2 triliun. Pemerintah diingatkan agar proyek tersebut harus dilakukan perencanaan matang.

Mengingat proyek satelit HBS ini dilakukan dalam kurun waktu setahun, maka tepatnya pada Maret tahun 2023 ditargetkan akan meluncur ke orbit.

Founder IndoTelko Forum Doni Ismanto Darwin memahami langkah Kominfo melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) yang terus memperkuat backbone internet melalui program satelit Satria-1, satelit Satria-2, dan Hot Backup Satria yang terbaru.

"Kalau saya membaca pemerintah ingin memangkas kesenjangan digital dengan cepat, di mana proyek Satria menjadi andalan selain Palapa Ring Barat, Tengah, dan Timur," ujar Doni kepada detikINET, Senin (21/3/2022).

Namun, Doni mengingatkan dalam menggelar proyek Satria tetap harus ada perencanaan yang matang terutama dari sisi eksekusi dan efisiensi.

"Beam (pancaran) dari Satria 1 dan 2, atau backup beririsan dengan segmen Palapa Ring secara keseluruhan. Padahal, ada rencana dari Bakti yang akan membuat proyek Palapa Ring Integrasi yang ingin menyambungkan segmen Barat, Tengah, dan Timur," ungkapnya.

"Utilitas dari Palapa Ring itu masih rendah, jika Proyek Satria secara keseluruhan digas penuh, skala prioritas yang mana dijadikan jaringan backbone internet? Setahu saya yang reliable itu tetap kabel optik, satelit hanya sebagai cadangan akses karena biayanya mahal," sambung Doni.

Doni mengingatkan kita tetap saja harus waspada karena ada faktor utang negara.

"Availability payment itu kan sama saja tiap tahun bayar utangnya. Harus waspada dalam pendanaan ini, jangan nanti terjebak utang jangka panjang, infrastrukturnya tak optimal karena tumpang tindih," ulasnya.

Hal lain yang menjadi sorotan dalam Proyek Satria adalah Bakti harus bisa memiliki perbedaan dengan mitra nantinya terutama untuk Satria 2 sebagai rencana berkelanjutan.

"Di konsorsium Satria-1 dan Proyek Hot Backup Satellite itu pemainnya beririsan, baiknya untuk Satria-2 didapatkan pemain yang berbeda guna mitigasi resiko. Kalau untuk manufaktur sudah bervariasi," tutupnya.



Simak Video "China Sukses Luncurkan 3 Satelit Baru ke Orbit"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)