Efek Superlative untuk Menonjolkan David vs Goliath

Tips Fotografi

Efek Superlative untuk Menonjolkan David vs Goliath

Ari Saputra - detikInet
Senin, 06 Jun 2016 09:55 WIB
Patung Red Cube karya Isamu Noguchi di Manhattan. (Foto: detikINET/Ari Saputra)
Jakarta - Di depan pintu utama Balai Lelang Christie di Gedung Rockfeller New York, seniman patung Jeff Koons memajang salah satu karyanya 'Ballon Dog'. Sebuah patung anjing pudel raksasa mengkilat berwarna oranye tua yang mengingatkan balon kelinci saat acara ulang tahun.

Bentuknya yang super jumbo — dengan tinggi 3,5 meter -- mampu mencari dan mencuri perhatian. Menurut balai lelang Christie patung tersebut terjual US 58 juta atau Rp 754 miliar!

Bagi yang pertama kali melihat karya Ballon Dog tentu akan terhenyak dengan ukurannya yang super jumbo. Ia mampu menghadirkan sesuatu yang kecil dan remeh-temeh menjadi sesuatu yang besar dan patut diperhatikan. Trik visual tersebut yang dikenal sebagai super exposed.

Akan tetapi dengan super exposed saja tidak cukup. Perlu ada trik tambahan yakni dengan metode komparasi atau perbandingan. Ballon Dog ditempatkan di publik area dengan orang-orang yang seliweran sehingga patung tersebut terbukti benar-benar raksasa.

Bayangkan jika Ballon Dog itu dipotret tanpa pembanding (misalkan untuk foto katalog) tentu efek visualnya akan berbeda.
Ballon Dog karya Jeff Koons di Kota New York. (Ari Saputra/detikcom)

Bagi fotografer, merekam dampak visual dari subjek yang superlative tersebut menjadi seni tersendiri. Tidak sekadar merekam dua subjek yang berbeda namun mampu mengajak imajinasi bergerak ke mana-mana.

Tidak hanya memperlihatkan skala atau ukuran superlative namun mampu menegaskan bahwa subjek utama memiliki pengaruh yang luas.

Seperti pada foto patung perunggu 'Going Home' setinggi 12 meter yang dijepret di Terminal 3 Bandara Changi Singapura. Jika tampak muka dengan orang melintas di sampingnya tentu sudah cukup berbicara tentang skala: betapa tinggi dan besarnya patung karya Han Mei Ling tersebut.
Patung perunggu Going Home karya Han Mei Ling di Bandara Changi Singapura. (Ari Saputra/detikcom)

Akan tetapi saya belum puas dengan 'pernyataan' visual itu. Saya membutuhkan komunikasi ruang yang lebih luas. Maka saya menggeser angle pemotretan dari samping dengan posisi patung dan pembanding (orang) berhadap-hadapan dengan jarak antar keduanya sekitar 5 meter.

Beruntung kondisi ruangan di tempat itu sangat luas dan super tinggi layaknya bandara internasional sehingga saya tidak kesulitan mengambil sudut pengambilan gambar meski lebar lensa yang saya gunakan cuma 35mm.

Dengan perbedaan angle itu saya mendapatkan statement yang saya inginkan. Yakni bukan sekadar ukuran (teks) namun saya mencoba menempatkannya dalam konteks yang lebih dinamis berupa dialog ruang dan waktu (suasana terminal 3). Pun demikian, sudut ini mempunyai kelemahan karena tidak menggambarkan patung secara utuh namun hanya sebagian.

Pada contoh lain ketika memotret Ngarai Yosemite, California saya menggunakan teknik cropping untuk mendapatkan efek superlative. Yakni menempatkan subjek kecil (turis memotret ngarai) di pojok kanan bawah sebagai pembanding.
Foto Yosemite sebelum di-croping (atas) dan setelah di-cropping (bawah). (Ari Saputra/detikcom)

Diharapkan gambaran Ngarai Yosemite terlihat lebih menonjol karena ada pembanding layaknya David vs Goliath. Hal itu diperoleh setelah saya men-cropping foto dengan frame lebih luas dari gambar yang dihasilkan dari dalam bus.

Dengan trik serupa, Anda mampu menghadirkan gambaran superlative dengan lebih maksimal. Seperti patung raksasa dalam event budaya, bangunan, landmark kota, mural, karya seni, rekor MURI, atau apa saja. Foto-foto yang dihasilkan pun mampu menghibur mata dan mengajak otak kanan berimajinasi ke mana-mana.
Pilar megah di Museum Nasional Singapura ditunjukan dengan skala mungil pengunjung museum. (Ari Saputra/detikcom).
(Ari/ash)