Nikon Df dan Romantisme Vespa Baru Bergaya Retro

Review Produk

Nikon Df dan Romantisme Vespa Baru Bergaya Retro

- detikInet
Kamis, 06 Feb 2014 09:51 WIB
Nikon Df (gettyimages)
Jakarta -

Pertama kali digosipkan, langsung menyentak dan membuat geger jagat fotografi. Sebab, desain yang dibuat jadul merupakan reinkarnasi kamera legendaris Nikon FM 2.

Mau tidak mau, bodi yang sangat nyentrik menjadikannya sebagai most wanted di kalangan fotografer, meski sang fotografer bukan penggemar Nikon sekalipun. Dunia bakal mengenalnya sebagai Nikon Df, digital fusion.

Diluncurkan akhir November tahun lalu, Nikon Df masih susah dicari di pasaran. Hingga pertengahan Januari, jumlahnya masih sangat terbatas. Sampai-sampai di pusat elektronik dan kamera terbesar di Jepang yakni Akhibara Tokyo, Nikon Df benar-benar sold out.

"Ada toko yang masih menjual dengan stok sedikit, tapi tempatnya nyempil di jalanan Tokyo dan hanya warga lokal yang tahu alamatnya," kata seorang teman di Tokyo saat saya nitip dibelikan.

Pencarian lalu berlanjut ke Singapura. Kaki langsung menuju ke salah satu pusat kamera dan komputer Funan IT Mall. Di sana, ada beberapa toko yang masih menyimpan stok Nikon Df. "Ini stok terakhir," kata pramuniaga di TK Photo.

Setelah selesai dengan urusan transaksi (harganya sama dengan yang dibanderol oleh Nikon dikurangi tax refund) saya langsung menjajal Nikon Df.

Lokasinya di taman botani Garden by the Bay yang berada di Marina Bay dengan stasiun MRT Marina Bayfront. Pilihan lokasi ini saya pikir tepat karena selain outdoor, konsepnya bisa wide hingga detil (foto bunga-bunga). Natural warna atau enggaknya di kamera juga bisa dilihat di sini.

Kesan pertama, selain desain jadulnya yang sangat unik, saya seperti sedang bermain kamera mirrorless. Sebab, gerakan mirror saat membuka ke atas lalu kembali ke bawah tidak terasa.

Hampir tidak ada getaran atau hentakan sama sekali. Suaranya juga lebih bening dan senyap. Dan semua dikerjakan dengan sangat cepat sehingga tidak bisa berfikir bahwa saya sedang memegang DSLR.

Kesan kedua yakni berat kamera yang ringan dan ringkas. Lebih tipis dan enteng dari Nikon D800 namun tetap berwibawa. Sangat tepat dipadankan dengan lensa fix semacam 20mm dan 50mm. Bahkan, bermodal dua lensa tersebut, kegiatan traveling yang padat menjadi lebih ringan namun tetap berkualitas serta tidak pegal-pegal.




Ketiga, saat membuka hasil foto di layar komputer iMac, bikin geleng-geleng kepala. Sebab, Nikon Df mampu merekam ketajaman warna, detail, aperture dan cara menangkap cahaya secara teliti dan profesional. Bahkan saat dilihat di televisi LED 50 inch, foto yang dihasilkan tetap terjaga kualitasnya seperti kualitas siaran televisi HD (High Definition).



(Hasil jepretan Nikon Df dibandingkan dengan Canon 5D Mark II. Ada yang tahu mana hasil Nikon Df?)

Selidik punya selidik, Nikon Df dirancang dengan kemampuan 16MP. Kendati relatif kecil dibandingkan Nikon D800 yang mencapai 36MP, namun tertolong dengan sensor yang digunakan yakni sama persis dengan sensor Nikon D4.

Sehingga kalau mau kualitas gambarnya lebih ekstrim, dapat menanggalkan JPEG dan mengganti dengan fasilitas rekam NEF (RAW). Kalau belum puas juga, masih ada fasilitas rekam TIFF yang menjamin hasil gambar lebih maksimal. Hanya saja, kualitas TIFF memerlukan memori yang sangat besar. 1 frame foto bisa berukuran 45 MB hingga 50 MB!

Berikut beberapa catatan penting tentang Nikon Df:

A. Desain mengikuti desain legendaris Nikon FM 2 yang membuat siapa saja bakal berdecak kagum dan membuat gengsi tersendiri bagi si pemakai. Sampai-sampai, demi prestis tersebut mampu membuat kalap meski harganya agak lebih mahal dari yang seharusnya.

"Dengan kemampuan pixel di bawah D800, harganya bisa Rp 20 jutaan saja. Tetapi saya akan memilih itu. Karena saya pernah mengalami zaman film, romantismenya keluar. Kedua, itu seperti mengendarai New VW Beatle atau Vespa baru yang bergaya jadul. Ada prestise tersendiri," kata Wiwin Yulius, seorang penggemar Nikon di Jakarta.



(Hasil foto Nikon Df dengan lensa kit 50mm f/1,8. Detail air masih terlihat jelas)

B. Tombol dan tool mengikuti gaya lama kamera film FM 2. Banyak tombol dan tool diperuntukkan bagi yang sudah hafal aturan teknis memotret di luar kepala, seperti pemilihan ISO, aperture (diafragma) dan speed.

Alhasil, fotografer pemula bakal kesulitan mengoperasikan Nikon Df. Kalaupun ada yang memaksa, agak tertolong dengan mode otomatis (P/program) yang masih tersedia.



(Hasil foto Nikon Df dengan lensa kit 50mm f/1,8. White Balance diatur pada menu Auto. Warna yang colorfull mampu terekam dengan alamiah dan sesuai aslinya tanpa distorsi warna berlebihan)

C. Bodi kamera sangat cocok di tangan. Tidak terlampau besar dan tidak kekecilan. Beratnya juga masih rasional (768 gram) sehingga dengan membawa 2 lensa fix yang mungil seperti 20mm dan 50mm, semua masalah traveling, landscape dan street photography benar-benar selesai. Segmen ini sangat sesuai dengan iklan Nikon Df yang menyasar dua pecinta fotografi jenis ini.

D. Tidak ada fasilitas perekaman video. Konsekuensinya, fotografer kembali fokus pada gambar diam secara maksimal. Kecintaan pada fotografi benar benar diuji tanpa perlu tergoda oleh gambar gerak (video). Nikon Df seperti mengembalikan titah kamera foto seperti dalam taglinenya Pure Photography.

E. Kualitas gambar tidak perlu diragukan. Hanya saja untuk kondisi minim cahaya alias low light, Nikon Df agak kesusahan. Ia mulai grainy di atas ISO 2.500. Sekelebat, grainy-nya tidak terlampau mengganggu namun kalau diperhatikan secara seksama, cukup terlihat.

Bagi sebagian fotografer, grainy pada level rendah ini masih bisa ditolerir. Tetapi bagi sebagian fotografer lain yang mengejar detail seperti fashion, akan cukup mengganggu.



(Hasil foto Nikon Df dengan lensa kit 50mm f/1,8. Ketajamannya merata di kontur dan tekstur patung kuda kayu)

F. Baterai kamera terlalu mungil dan hanya bertahan untuk 1400 shoot -- kemampuan yang menurut saya sangat kurang. Apalagi kalau kerap menggunakan fasilitas live view atau melihat hasilnya di LCD, maka akan lebih mengurangi daya tahan baterei.

Baterai mungilnya seperti baterei kamera poket pada umumnya. Mau tidak mau, harus menyiapkan baterai cadangan atau membawa charger baterei yang kebetulan dibuat ringkas.



(Ringkas dan ringan. Cocok menjadi teman jalan jalan)

(Ari/ash)