Iran mengklaim menggunakan sistem pertahanan udara baru untuk menembak jatuh drone canggih MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat di dekat Selat Hormuz pada awal pekan ini. Menurut analis, insiden ini menunjukkan Iran masih mempertahankan kapasitas menangkis serangan AS dan Israel, meski situs-situs militernya digempur.
Media Iran menyebut drone tersebut dijatuhkan di dekat Pulau Qeshm di Selat Hormuz. Mereka menambahkan pencegatan ini menandai penggunaan tempur perdana dari sistem yang dikembangkan di dalam negeri bernama Arash-e Kamangir. Belum ada konfirmasi independen terkait klaim Iran mengenai sistem pencegatan baru tersebut.
Hilangnya drone AS ini terjadi di tengah laporan AS melancarkan serangan baru terhadap situs militer Iran di dekat Bandar Abbas. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran kemudian menyatakan menyerang pangkalan udara Amerika sebagai balasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kantor Berita Fars menyatakan sistem Arash-e Kamangir digunakan untuk mencegat drone pengintai musuh di atas Selat Hormuz. Mereka menggambarkan sistem tersebut memiliki kemampuan deteksi siluman, namun hanya memberikan sedikit rincian teknis.
Media Iran menyebut tindakan ini sebagai peringatan bagi pesawat musuh yang beroperasi di dekat wilayah udara dan perbatasan maritimnya. "Operasi ini, dilakukan menggunakan sistem dengan kemampuan tersembunyi, merupakan pesan jelas dan tegas dari Iran," lapor Fars mengutip para pejabat anonim.
Seberapa Kredibel Klaim Iran?
Pakar mengatakan klaim tersebut cukup masuk akal, mengingat Iran berinvestasi besar pada sistem pertahanan dalam negeri yang lebih murah dan mobile. Mark Hilborne, dosen fakultas studi keamanan di King's College London, mengatakan serangan tersebut sesuai pola. "Iran menjadi cukup mandiri merancang berbagai bentuk rudal dan seperti Ukraina, cerdik dalam mengubah nilai ekonomi peperangan. Sistem murah dan sederhana dapat membahayakan sistem yang jauh lebih kompleks," katanya.
Arash-e Kamangir mungkin bukan senjata baru yang revolusioner. Alex Almeida, analis keamanan Horizon Engage, menduga sistem tersebut mungkin berkaitan dengan senjata permukaan ke udara jarak pendek atau amunisi lainnya.
"Saya curiga sistem itu pengembangan lebih lanjut dari salah satu sistem tersebut. Sistem itu tidak mengandalkan panduan tetap dari radar pertahanan udara tradisional. Kemungkinan sistem itu menggunakan semacam panduan elektro-optik atau pelacak panas," katanya.
Sistem lebih kecil dan murah dapat dipindahkan, disembunyikan, diluncurkan dengan cepat, dan diganti lebih mudah. Beberapa dirancang sehingga alat pencegat dapat berputar di area langit tertentu sampai drone atau pesawat target muncul. Sebagian lain adalah senjata anti drone atau anti pesawat jarak pendek yang kurang canggih tapi lebih mudah diproduksi dan diganti.
Itu membuat drone seperti MQ-9 Reaper, yang bergerak lambat karena tujuan utamanya adalah pengintaian jadi rentan. Nicole Grajewski, asisten profesor Universitas Sciences Po di Paris, mengatakan Iran mungkin masih butuh pertahanan udara menengah dan jarak jauh yang lebih kuat, namun sistem mobile memiliki keuntungan nyata.
"Anda dapat memindahkannya dengan cepat. Itu adalah sistem peluncur mobile, yang dalam beberapa kasus dapat dibawa manusia. Kita tidak tahu seberapa tinggi Reaper itu terbang. Berdasarkan video yang dirilis, mungkin relatif mudah untuk menembaknya jatuh, namun hal itu tetap mengindikasikan mereka masih memiliki kemampuan pertahanan udara tersisa," cetusnya.
Sistem ini mungkin tidak mampu menghentikan serangan udara skala besar atau menembak jatuh jet canggih dalam jumlah signifikan, namun dapat memaksa AS dan Israel lebih banyak mengandalkan senjata jarak jauh mahal.
(fyk/fyk)