Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Rusia Ubah Malam Jadi Terang dengan Cermin Raksasa Antariksa

Rusia Ubah Malam Jadi Terang dengan Cermin Raksasa Antariksa


Rachmatunnisa - detikInet

Znamya-2 terlihat dari stasiun ruang angkasa Mir pada tanggal 4 Februari 1993.
Foto: Wikimedia Commons
Jakarta -

Bayangkan malam hari tiba-tiba berubah terang tanpa lampu. Gagasan yang terdengar seperti fiksi ilmiah itu ternyata pernah diuji Rusia lebih dari 30 tahun lalu melalui proyek cermin raksasa di antariksa bernama Znamya. Kini, konsep serupa kembali menarik perhatian sebagai solusi untuk penerangan malam dan peningkatan produksi energi surya.

Pada 1993, Rusia menguji Znamya 2, sebuah cermin reflektif berdiameter sekitar 20 meter yang dibawa wahana kargo Progress M-15 setelah menyelesaikan misinya di stasiun luar angkasa Mir. Ketika cermin dibentangkan di orbit, permukaannya memantulkan sinar Matahari ke Bumi dan menghasilkan berkas cahaya selebar sekitar 5 kilometer dengan tingkat kecerahan yang mendekati cahaya bulan purnama.

Cahaya tersebut melintas dari Prancis selatan hingga Rusia barat dengan kecepatan sekitar 8 kilometer per detik. Meski banyak wilayah tertutup awan, sejumlah pengamat di darat sempat melihat kilatan terang yang menyapu langit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proyek Znamya dipimpin insinyur Rusia Vladimir Syromyatnikov. Awalnya, teknologi itu dirancang sebagai layar surya (solar sail) untuk mendorong wahana antariksa menggunakan tekanan cahaya Matahari. Namun, konsep tersebut kemudian diubah menjadi cermin orbit yang memantulkan sinar Matahari ke permukaan Bumi.

Tujuan awalnya adalah memberikan penerangan bagi wilayah terpencil di Siberia, kawasan Arktik, hingga lokasi bencana atau proyek konstruksi yang membutuhkan cahaya tambahan pada malam hari.

ADVERTISEMENT

Keberhasilan uji coba pertama mendorong Rusia menyiapkan proyek lanjutan Znamya 2.5 pada 1999. Cermin baru ini berdiameter 25 meter dan diperkirakan mampu menghasilkan cahaya setara lima hingga sepuluh kali terang bulan purnama.

Namun, eksperimen itu gagal setelah cermin tersangkut antena wahana Progress saat dibentangkan. Setelah beberapa kali upaya penyelamatan tidak berhasil, wahana akhirnya diarahkan masuk kembali ke atmosfer dan proyek Znamya dihentikan. Rencana membuat versi yang lebih besar, Znamya 3, pun dibatalkan.

Meski proyek Rusia berhenti, gagasan menggunakan cermin di antariksa kembali hidup. Perusahaan rintisan asal Amerika Serikat, Reflect Orbital, tengah mengembangkan satelit dengan cermin reflektif besar untuk mengarahkan cahaya Matahari ke lokasi tertentu setelah Matahari terbenam.

Perusahaan tersebut menyebut teknologinya dapat dimanfaatkan untuk proyek konstruksi, operasi pencarian dan penyelamatan, penanggulangan bencana, hingga membantu pembangkit listrik tenaga surya menghasilkan energi lebih lama setiap hari.

Menurut Reflect Orbital, satelit demonstrasi pertamanya dirancang membawa cermin berukuran sekitar 18 Γ— 18 meter yang mampu memantulkan cahaya dengan intensitas setara sinar bulan ke area berdiameter sekitar 5 kilometer di permukaan Bumi.

Meski menjanjikan berbagai manfaat, konsep cermin antariksa juga memunculkan kekhawatiran. Para astronom menilai pantulan cahaya buatan berpotensi mengganggu pengamatan langit malam, sementara ilmuwan lingkungan mengingatkan perlunya kajian lebih lanjut mengenai dampaknya terhadap satwa nokturnal dan ekosistem.

Meski demikian, proyek Rusia pada 1993 membuktikan bahwa gagasan mengubah malam menjadi terang bukan sekadar khayalan. Dengan kemajuan teknologi satelit dan material ringan saat ini, konsep tersebut berpeluang kembali diwujudkan dalam skala yang lebih besar di masa depan



(rns/rns)




Hide Ads