Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Paus Leo Kecam Penggunaan AI di Medan Perang, Sindir Amerika?

Paus Leo Kecam Penggunaan AI di Medan Perang, Sindir Amerika?


Virgina Maulita Putri - detikInet

Pope Leo XIV speaks during a meeting with bishops, priests, consecrated persons and pastoral workers at the Shrine of Our Lady of Lebanon, during his first apostolic journey, in Harissa, Lebanon, December 1, 2025. (Reuters)
Foto: Reuters
Jakarta -

Paus Leo menyerukan pembatasan dalam penggunaan AI di medan perang. Ia juga memperingatkan bahaya revolusi AI yang didorong oleh orang-orang yang hanya ingin mengejar keuntungan.

Dalam surat ensiklik pertamanya sejak diangkat sebagai Paus tahun lalu, Paus Leo mengecam penggunaan AI dalam konflik. Teknologi ini sudah dipakai oleh Amerika Serikat saat menyerang Iran, khususnya untuk menentukan target pengeboman.

"Tidak diperbolehkan mempercayakan keputusan yang mematikan atau yang tidak dapat diubah kepada sistem artifisial," tulis Paus kepada 1,4 miliar umat Katolik di dunia, seperti dikutip dari Financial Times, Senin (25/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyerukan rantai tanggung jawab yang jelas dan dapat diverifikasi, serta kontrol manusia yang efektif, sadar diri, dan bertanggung jawab soal pemilihan target pengeboman.

"Ketika keputusan untuk menyerang diambil secara otomatis atau tidak transparan, risiko pengabaian tanggung jawab meningkat," ujarnya.

ADVERTISEMENT

"Semua sistem yang dipakai dalam situasi perang harus menjamin kemungkinan untuk ditelusuri kembali, sehingga akuntabilitas dan kesalahan tidak direduksi ke 'mesin'," sambungnya.

Ensiklik ini diterbitkan setelah Paus Leo secara terbuka mengkritik kampanye militer AS di Iran, yang membuat Presiden AS Donald Trump marah dan memicu perdebatan sengit dengan Washington.

Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mencoba berargumen bahwa serangan ke Iran sesuai dengan teori 'perang yang adil' dalam ajaran Gereja Katolik. Namun, Vatikan menolak klaim tersebut dan Paus Leo kembali membantahnya dalam ensiklik tersebut.

"Tanpa mengurangi hak untuk membela diri dalam arti yang paling ketat, penting untuk mengeraskan bahwa teori 'perang yang adil', yang sering dipakai untuk membenarkan segala jenis perang, kini sudah usang," tulis Paus Leo.

Paus Leo juga memperingatkan algoritma yang tidak transparan, yang dikendalikan oleh perusahaan yang kuat, berisiko menimbulkan bentuk dehumanisasi baru. Ia menyerukan pemerintah di seluruh dunia untuk mengatasi potensi dampak negatif AI di berbagai bidang, termasuk pendidikan, lapangan kerja, dan hubungan pribadi.

"Teknologi itu sendiri bukan solusi terhadap masalah umat manusia, sama seperti teknologi bukanlah sesuatu yang jahat secara inheren. Namun, dalam praktiknya, teknologi tidak pernah netral karena teknologi mengambil karakteristik dari mereka yang merancang, membiayai, meregulasi, dan menggunakannya," ucapnya.




(vmp/vmp)




Hide Ads