Pekan lalu, netizen yang jeli menemukan apa yang tampak seperti sistem laser buatan China di bandara Dubai di Uni Emirat Arab (UEA). Laser tersebut dipasang pada sebuah kendaraan dan diyakini mampu menembak drone.
Di UEA juga sudah terdapat sistem laser Iron Beam yang rupanya dipinjamkan Israel. Laporan lebih lanjut menyebut UEA juga berupaya membeli senjata laser buatan Amerika. UEA pun menyepakati perjanjian dengan berbagai perusahaan Eropa dan AS untuk bersama mengembangkan persenjataan lasernya.
Akhir 2025, sebuah perusahaan transportasi mengunggah foto peralatan militer yang mereka kirim dan tak sengaja mengungkap Oman sebagai pembeli lain senjata laser China. Selain itu, pascaserangan Israel ke ibu kotanya, Qatar menjajaki akuisisi pertahanan udara Turki yang dikenal sebagai Steel Dome, yang mencakup laser.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu di Arab Saudi, pihak militer menguji sistem senjata laser China. Beberapa pengamat menyebutkan Saudi membeli delapan unit Silent Hunter buatan China dan mungkin juga berencana membeli senjata laser AS.
Tak lagi fiksi ilmiah
Perang Iran membuat senjata laser lebih dekat pada konflik di dunia nyata, Jared Keller, mantan reporter yang mengelola Laser Wars menulis bahwa selama April dan Mei, pengembangan senjata laser global mengalami percepatan dengan laju yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Militer AS pertama kali menembak jatuh drone dengan laser dalam pengujian tahun 1973 dan terus mengembangkan teknologi tersebut dan senjata laser kini menjadi lebih kecil dan bekerja lebih baik.
Laser adalah kelompok Senjata Energi Terarah atau Direct Energy Weapons (DEW). Terdapat laser berenergi tinggi dengan pancaran sinar untuk merusak atau membutakan target serta senjata gelombang mikro berdaya tinggi, yang menghasilkan semburan gelombang mikro untuk menyebabkan malfungsi pada target.
Maraknya drone membuat senjata laser jadi alternatif pertahanan. "Maraknya peperangan drone memperumit perhitungan ekonomi dalam peperangan konvensional," jelas Keller. Tidaklah hemat biaya untuk menembak jatuh drone murah menggunakan rudal mahal.
Dikutip detikINET dari Deutsche Welle, produsen senjata laser mengklaim biaya setiap tembakan hanya USD 3 hingga USD 5. Perang Iran telah mengubah tingkat permintaan laser.
"Negara mana pun yang menghadapi ancaman mendesak dari tetangga regionalnya pasti ingin mempercepat penggunaan sistem ini," kata Keller, menjelaskan mengapa laser semakin menjamur di negara Teluk.
Ampuh melawan drone?
Namun laser bukanlah solusi ajaib. Bagi negara-negara Timur Tengah yang membelinya, Keller berpendapat senjata ini akan memberikan manfaat maksimal bila diapdukan sistem pertahanan udara berlapis yang lebih besar.
Ada beberapa kekurangannya. Sinar laser bergerak dalam garis lurus, hanya dapat digunakan pada jarak tertentu (Iron Beam hanya menjangkau jarak 10 kilometer pada satu waktu) dan harus ditahan pada target selama jangka waktu tertentu. Waktu diam ini bisa menjadi tantangan jika target adalah drone cepat.
Pancaran laser juga dapat terganggu kelembapan, hujan, kabut, salju, pasir, debu, atau air laut. Suhu Timur Tengah juga dapat merusak komponen sensitif dan membuat pengoperasiannya jadi sulit, karena lebih banyak energi untuk pendinginan. Saudi dilaporkan mengeluhkan beberapa masalah ini saat menguji laser buatan China.
Iron Beam juga belum digunakan penuh dalam perang Iran. Sebuah versinya memang menjatuhkan drone Hizbullah tapi menurut Jerusalem Post, militer Israel menyatakan perlu setidaknya 14 baterai tambahan agar efektif. Itu sebabnya pengiriman laser Iron Beam ke UEA mungkin lebih merupakan manuver diplomatik.
Menurut Andreas Krieg, dosen School of Security Studies di King's College London, membeli persenjataan laser dari berbagai sumber adalah cara bagi negara Teluk mendiversifikasi pertahanan.
"Ketergantungan berlebihan pada AS tak membuahkan hasil. Dalam jangka menengah hingga panjang, negara Teluk harus menemukan cara untuk meningkatkan kemandirian," cetusnya.
(fyk/fay)