Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Strategi Acer Hadapi Gempuran MacBook Neo dan Rupiah Melemah

Strategi Acer Hadapi Gempuran MacBook Neo dan Rupiah Melemah


Virgina Maulita Putri - detikInet

Lini laptop Acer Swift terbaru hadir di Indonesia
Foto: Virgina Maulita Putri/detikINET
Jakarta -

Kehadiran MacBook Neo dengan harga yang lebih murah dari dugaan mengguncang pasar laptop Indonesia. Acer pun menyiapkan taktik untuk melawan MacBook Neo di tengah nilai rupiah yang melemah.

Matius Tirtawirya, Consumer and Gaming Notebook Product Manager Acer Indonesia mengatakan Acer akan memonitor pasar terlebih dulu sebelum menyiapkan produk serupa untuk melawan MacBook Neo.

"Pertama kita akan melihat reaksi market dulu. Karena kita akan monitor di situ, karena ketika nanti hasilnya bagus atau tidak, pastinya Acer juga akan melihat apakah Acer nanti akan membuat SKU yang sama, di range harga seperti itu, ataupun seperti apa," kata Matius saat ditemui setelah peluncuran laptop terbaru Acer di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena yang pasti yang kita lihat adalah pengalaman pengguna ketika menggunakan itu. Kalau misalkan pengalaman pengguna di range harga seperti itu, dengan spesifikasi seperti itu kurang memuaskan, mungkin kita tidak akan mengeluarkan solusi seperti itu. Tapi yang poin utamanya adalah pengalaman pengguna dengan SKU Acer," sambungnya.

Matius Tirtawirya, Consumer and Gaming Notebook Product Manager Acer IndonesiaMatius Tirtawirya, Consumer and Gaming Notebook Product Manager Acer Indonesia Foto: Virgina Maulita Putri/detikINET

Terkait pelemahan nilai rupiah terhadap dolar, Matius mengatakan produk Acer pasti terdampak karena diimpor dari luar negeri. Hal ini juga tidak hanya dialami oleh Acer, tapi juga semua brand yang produknya diimpor.

ADVERTISEMENT

Ia mengaku Acer akan fokus menjaga harga produknya tetap kompetitif, tapi harga produk Acer sudah mengalami kenaikan sejak akhir tahun 2026 karena berbagai faktor, mulai dari krisis RAM yang masih berlanjut sampai kenaikan biaya platform marketplace.

"Kalau misalkan suka memperhatikan marketplace, sebenarnya kalau dibandingkan dari, contoh Desember tahun lalu, terus kemudian di beberapa bulan belakangan ini, itu bisa dilihat sebenarnya peningkatannya lebih dari 10%," jelas Matius.

"Itu bisa dilihat di semua brand terjadi, kayak e-commerce Tokopedia, Shopee, apalagi platform juga memberikan fee lebih tinggi lagi," imbuhnya.

Meski dibayangi kenaikan harga, Matius mengaku penjualan produk Acer sejauh ini masih cukup baik. Namun, ia berharap pemerintah bisa membantu dari segi kebijakan untuk membantu agar daya beli masyarakat tidak turun,

"Kita terus berharap kalau misalkan pemerintah Indonesia itu punya improvement lah, sehingga daya beli masyarakat ini tidak menurun ke depannya. Karena sebentar lagi back to school, kemudian nanti kita juga ada promo-promo yang lebih menarik, biar semuanya itu bisa sukses," pungkasnya.




(vmp/vmp)




Hide Ads