Bagi pengguna iPhone generasi awal di Indonesia, nama iPhonesia pasti terasa familiar. Komunitas yang lahir dari kecintaan pada fotografi lewat iPhone ini pernah menjadi salah satu gerakan digital paling berpengaruh di Tanah Air - bahkan hashtag #iPhonesia sempat viral di Instagram dan menjadi identitas tersendiri bagi jutaan pengguna.
Namun belakangan, iPhonesia nyaris tak terdengar. Apa yang terjadi?
detikINET berkesempatan berbincang dengan Aries Lukman, Founder iPhonesia, untuk menelusuri perjalanan panjang komunitas ini - dari masa kejayaan hingga periode vakum yang cukup panjang, dan kini, rencana untuk bangkit kembali tepat di tahun Apple merayakan ulang tahunnya yang ke-50.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berawal dari Twitter, Meledak di Instagram
Segalanya dimulai pada 2010, ketika Aries Lukman melihat potensi besar pada iPhone sebagai alat fotografi. Bukan sekadar smartphone biasa, iPhone kala itu - di matanya - adalah sebuah revolusi.
"Apple telah menciptakan sebuah produk yang revolusioner. Sebuah smartphone yang memiliki display besar dan kamera yang sangat baik pada masanya," ujar Aries kepada detikINET.
Aries Lukman Foto: doc Pribadi |
Dari kekaguman itulah, Aries mulai mengamati tren iPhoneography di luar negeri dan meyakini bahwa hal serupa akan besar di Indonesia. Ia pun mengambil langkah pertama: membuka ruang diskusi di Twitter pada 2010, lalu mendirikan mailing list pada 2011.
"Awalnya hanya ingin mencari teman-teman yang punya antusiasme yang sama dengan iPhone photography," kenangnya.
Titik balik terbesar datang ketika iPhonesia merambah Instagram. Hashtag #iPhonesia langsung trending. Fenomena itu memicu semangat tim untuk terus bergerak.
"Ketika orang-orang ingin memiliki iPhone hanya karena ingin bisa pakai Instagram dan menggunakan hashtag iPhonesia - ketika itu kita semangat banget buat bikin event yang bisa ngumpulin member dan bisa mengulik kemampuan fotografi dan apps di iPhone. Di saat itu kita melihat endless possibilities," kata Aries.
Ketika Komersialisasi Menggerus Komunitas
Namun perjalanan iPhonesia tidak selalu mulus. Seiring berkembangnya skala komunitas, tekanan komersialisasi mulai terasa.
Aries mengakui bahwa keputusan-keputusan komersil sempat membuat iPhonesia kehilangan arahnya. Ditambah lagi, laju perubahan dunia media sosial yang begitu cepat memaksa tim untuk terus-menerus menciptakan program kreatif - sebuah beban yang lama-kelamaan menguras energi.
"Akhirnya saya putuskan untuk melepas urusan komersil ke pihak ketiga dan kita mencoba untuk rebuild kembali komunitasnya," ungkapnya jujur.
Selain tekanan komersil, tantangan regenerasi juga menjadi pekerjaan rumah yang tak mudah diselesaikan.
Fotowalk iPhonesia di Stasiun Tanah Abang Foto: Adi FR/detikINET |
Mati Suri
Beberapa tahun terakhir, iPhonesia memang berjalan dalam mode dormant alias mati suri. Aktivitas publik nyaris berhenti, kesibukan masing-masing anggota inti menjadi faktor utama.
Namun Aries menegaskan, iPhonesia tidak pernah benar-benar mati. Yang dijaga bukan sekadar akun media sosial, melainkan pertemanan dan ikatan antaranggota yang terjalin selama bertahun-tahun.
"Saat ini nostalgia kebersamaan dan hubungan dengan member masih kita lakukan dengan level yang lebih personal. Pertemanan yang didapat dalam komunitas ini lah yang masih kita jaga sampai saat ini," tuturnya.
iPhonesia Foto: doc Aries Lukman |
2026: Tahun Kebangkitan
Kini, di tahun yang bersamaan dengan Apple merayakan eksistensinya selama setengah abad, iPhonesia bersiap untuk kembali.
Aries menyebut bahwa pihaknya tengah mempersiapkan mini gathering bersama member-member lama, sekaligus merancang workshop fotografi iPhone yang rencananya akan segera digelar.
iPhonesia Foto: doc Aries Lukman |
Ke depannya, visi Aries untuk iPhonesia lebih terarah: fokus pada edukasi - dari level dasar hingga advanced - bagi para pecinta fotografi iPhone di Indonesia.
"Saya berharap iPhonesia semakin bisa establish sebagai sebuah komunitas yang memiliki dampak besar dalam kemajuan iPhone photography di Indonesia," ujarnya.
Melahirkan Fotografer Profesional
Salah satu warisan terbesar iPhonesia bukan hanya hashtag atau event - melainkan orang-orang yang kariernya tumbuh dari komunitas ini.
Aries menyebut nama Bill Satya sebagai salah satu contohnya. Bergabung sejak periode awal iPhonesia, Bill kini telah berkembang menjadi fotografer profesional untuk brand-brand olahraga ternama, termasuk Adidas.
"Dia sering cerita kalau dimulai dari motret dengan iPhone, akhirnya dia memiliki kesempatan untuk menjadi seperti sekarang," kata Aries.
Gathering iPhonesia Foto: doc Aries Lukman |
Kisah Bill bukan satu-satunya. Banyak member iPhonesia lainnya yang akhirnya melangkah lebih jauh - menjadi fotografer profesional maupun kreator konten berbayar.
Di penghujung perbincangan, Aries menitipkan pesan untuk generasi muda yang baru mulai menekuni mobile photography:
"Jangan cepat menyerah dan menjadikan device sebagai batasan. Konsistensi adalah kunci keberhasilan, dan dari konsistensi yang inovatif akan ditemukan sebuah terobosan - meski hanya menggunakan iPhone."
(afr/afr)







