Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Tragedi Sekolah Iran Dirudal Tomahawak, Pelakunya AI?

Tragedi Sekolah Iran Dirudal Tomahawak, Pelakunya AI?


Fino Yurio Kristo - detikInet

The U.S. Navy guided-missile cruiser USS Monterey is lit as it fires Tomahawk land attack missiles in this still image from Pentagons video released on April 14, 2018.   U.S. Navy Lt. j.g Matthew Daniels/Handout via REUTERS. ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY
Rudal Tomahawk Amerika saat diluncurkan. Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

Citra satelit komersial yang diambil pekan lalu menunjukkan kehancuran yang mengerikan pasca pengeboman sebuah sekolah dasar di Iran. Setidaknya 175 orang, termasuk sejumlah besar siswi muda, tewas dalam serangan tersebut.

Rekaman drone yang menyayat hati memperlihatkan ekskavator menggali puluhan kuburan untuk para korban. Dalam berbagai analisis, diduga kuat rudal yang menghujam adalah Tomahawk milik Amerika Serikat.

Serangan udara tersebut, yang diduga menarget kompleks militer Iran di dekat sekolah, menjadi contoh nyata dari kengerian yang terjadi sejak dimulainya perang AS-Israel terhadap Iran akhir bulan lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Pembantaian ini juga memunculkan pertanyaan kelam terkait teknologi. Sebelumnya dilaporkan bahwa militer AS menggunakan AI Claude buatan Anthropic untuk memilih target selama serangan ke Iran, termasuk dalam serangan ini.

Nah yang mengejutkan ketika ditanyai media, pihak Pentagon menolak untuk membenarkan atau menyangkal apakah AI memiliki peran dalam pengeboman sekolah tersebut. Artinya, ada kemungkinan AI salah memilih target sehingga sekolah pun terkena imbas rudal Tomahawak.

Awalnya, baik AS maupun Israel tak mau bertanggung jawab. Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran membunuh anak-anaknya sendiri dengan darah dingin. Kini, seperti dilaporkan New York Times, pejabat AS mengonfirmasi serangan rudal Tomahawk milik militer AS memang bertanggung jawab atas pertumpahan darah di sekolah itu.

Menurut temuan awal, para perwira di Komando Pusat AS "membuat koordinat target untuk serangan tersebut menggunakan data kedaluwarsa yang diberikan oleh Badan Intelijen Pertahanan (Defense Intelligence Agency)," ungkap sumber yang mengetahui masalah tersebut ke NYT.

Lebih mengejutkan, NYT juga melaporkan pihak militer sedang menyelidiki apakah model kecerdasan buatan, program pengolahan data, atau sarana pengumpulan intelijen teknis lainnya menjadi penyebab salah sasaran di sekolah tersebut.

Dikutip detikINET dari Futurism, Claude dilaporkan bekerja sama dengan Maven Smart System milik Badan Intelijen Geospasial Nasional (National Geospatial-Intelligence Agency) untuk mengidentifikasi titik-titik penting sasaran di Iran.

Terlepas dari hasil penyelidikan tersebut, para pejabat mengatakan ke NYT bahwa pada akhirnya pengeboman sekolah merupakan kesalahan manusia (human error), terlepas dari bagaimana target tersebut dipilih pada awalnya.

Menurut analisis NYT sendiri terhadap citra satelit historis yang berasal dari tahun 2013, kemungkinan besar para pejabat Komando Pusat bekerja dengan informasi yang sudah usang. Citra tersebut menunjukkan sekolah itu telah dipagari dan dipisahkan dari pangkalan militer di dekatnya antara tahun 2013 dan 2016 sehingga tidak seharusnya jadi sasaran.




(fyk/afr)




Hide Ads
LIVE