Elon Musk melalui perusahaannya SpaceX, dilaporkan memutus akses Starlink ke pasukan Rusia. Kabarnya hal itu menumpulkan serangan Rusia dan memberikan keuntungan bagi para pejuang Ukraina.
"Rusia kehilangan kemampuan mereka untuk mengendalikan medan tempur," ujar seorang operator drone Ukraina dengan nama panggilan Giovanni, dikutip detikINET dari BBC.
"Menurut saya mereka kehilangan 50% kapasitas serangan. Itulah yang ditunjukkan oleh angka-angka. Lebih sedikit serangan, lebih sedikit drone musuh, lebih sedikit segalanya," tambahnya, dikutip detikINET dari BBC.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlalu dini menilai dampak dari perubahan yang terjadi awal bulan ini, setelah menteri pertahanan Ukraina, Mykhailo Fedorov, meminta SpaceX memblokir akses Rusia ke Starlink. Namun di beberapa area di sepanjang garis depan, terdapat bukti pasukan Rusia terpaksa mundur.
Permintaan dari Federov muncul seiring menguatnya bukti Starlink memungkinkan pasukan Rusia melancarkan serangan yang makin akurat. Ini termasuk beberapa kejadian di mana unit Starlink dipasang pada drone, sehingga operator dapat memakai video real time untuk mengarahkannya tepat ke sasaran.
Komunikasi satelit SpaceX terbukti vital bagi kedua belah pihak. Diyakini serangan mematikan Rusia terhadap kereta penumpang di wilayah Kharkiv bulan lalu melibatkan drone Geran-2 yang dilengkapi terminal Starlink.
Namun sejak 1 Februari, semuanya berubah. SpaceX mematikan semua terminal yang beroperasi di Ukraina, kecuali yang masuk "daftar putih" yang disetujui Kementerian Pertahanan di Kyiv. Pengguna pribadi di seluruh negeri harus mendaftarkan ulang unit beserta identitas pribadi sebelum dihubungkan kembali.
Operasi 'Phishing' Ukraina
Di saat yang sama, aktivis Ukraina dari kelompok sukarelawan InformNapalm melancarkan operasi phishing dan sukses memperdaya tentara Rusia untuk mengungkapkan detail terminal Starlink mereka.
Mykhailo Makaruk, jubir InformNapalm, mengatakan kelompoknya berhasil mengidentifikasi 2.425 terminal Starlink. Begitu lokasi terminal di dekat garis depan dipastikan, fasilitas tersebut langsung menjadi sasaran tembak Ukraina.
Di tengah laporan bahwa tentara Rusia berusaha menyuap warga lokal untuk mendaftarkan terminal Starlink atas nama mereka, InformNapalm melacak sekitar 30 orang yang siap membantu. Dinas Keamanan Ukraina (SBU) memperingatkan seluruh warga Ukraina bahwa kolaborasi dengan Rusia adalah pengkhianatan tingkat tinggi.
Di garis depan, tentara Ukraina juga merasakan perbedaan. Kehilangan internet berkecepatan tinggi, pasukan Rusia kelabakan mencari alternatif. "Di daerah kami, mereka mulai menggunakan komunikasi radio. Jadi lebih mudah memahami pergerakan mereka," kata seorang tentara Ukraina.
Artem, prajurit dari unit zeni, mengatakan lawannya kini kesulitan mengarahkan drone. "Operator drone Rusia dulu bisa mengendalikan dan langsung menyerang target sejauh 100-250 kilometer dari garis depan. Sekarang kemampuan itu hilang," kata Serhii Kuzan dari Ukrainian Security and Co-operation Centre.
Meskipun pejabat militer Rusia membantah hal ini berdampak pada operasi, Ukraina berusaha mengambil keuntungan maksimal. Mantan perwira intelijen Ukraina, Ivan Stupak, menilai militer Ukraina mungkin memiliki waktu beberapa bulan sebelum Rusia beradaptasi.
"Pasukan lapis baja Rusia di darat saat ini setengah buta dan setengah tuli. Mungkin mereka akan sangat frustrasi dan kehilangan moral sehingga serangan balasan berskala kecil sekalipun bisa berdampak besar. Kami bisa memukul mundur pasukan Rusia, merebut kembali wilayah dan kemudian memulai negosiasi dengan kartu as baru," ujarnya.
(fyk/fay)