Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
TikTok AS Punya Pemilik Baru, Apa Dampaknya ke Pengguna?

TikTok AS Punya Pemilik Baru, Apa Dampaknya ke Pengguna?


Virgina Maulita Putri - detikInet

EDMONTON, CANADA - APRIL 28:
An image of a woman holding a cell phone in front of the Tik Tok logo displayed on a computer screen, on April 29, 2024, in Edmonton, Canada. (Photo by Artur Widak/NurPhoto via Getty Images)
TikTok AS Punya Pemilik Baru, Apa Dampaknya ke Pengguna? Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto
Jakarta -

TikTok kini berada di bawah kepemilikan baru di Amerika Serikat yang mengindikasikan pengguna akan melihat banyak perubahan. Apa saja dampak perubahan kepemilikan TikTok ke pengguna?

Pemilik baru TikTok di AS adalah sekelompok investor di bawah TikTok US Data Security (USDS) Joint Venture. Di bawah struktur baru ini, sekitar 80% entitas TikTok di AS dimiliki oleh investor non-China, tapi ByteDance masih memegang 19,9% saham.

Kelompok investor ini terdiri dari penyedia layanan cloud Oracle, private equity Silver Lake, dan perusahaan investasi MGX yang masing-masing menguasai 15%. Ada beberapa investor kecil lainnya, termasuk perusahaan investasi Michael Dell.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Dari semua investor tersebut, Oracle mungkin nama yang paling dikenal. Perusahaan besutan Larry Ellison ini merupakan penyedia layanan cloud dan database ternama yang bermitra dengan banyak perusahaan besar.

Perlu dicatat bahwa Ellison, yang saat ini menjawab sebagai Executive Chairman dan Chief Technology Officer Oracle, merupakan miliarder yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Oracle sebelumnya pernah mencoba mengakuisisi TikTok, dan saat ini sudah menyediakan infrastruktur cloud untuk aplikasi video pendek tersebut untuk mengelola data pengguna asal AS.

Berdasarkan kesepakatan baru, Oracle berperan sebagai mitra keamanan yang bertugas mengaudit kepatuhan TikTok terhadap peraturan keamanan data di AS, mengelola penyimpanan data, dan mengawasi update untuk algoritma rekomendasi konten.

Joint venture ini akan melatih ulang, menguji, dan memperbarui algoritma TikTok menggunakan data pengguna AS. Langkah ini sepertinya diambil untuk meredakan kekhawatiran bahwa penyebaran propaganda pemerintah China lewat TikTok.

Selebihnya, penggunaan TikTok akan sama seperti biasanya. TikTok USDS Joint Venture mengatakan aplikasi ini akan mempertahankan interoperabilitas sehingga pengguna di AS dapat melihat konten yang sama seperti pengguna global lainnya.

Begitu juga dengan kreator yang berbasis di AS, TikTok menjamin konten mereka dapat dilihat pengguna lain di level global. Pengguna di luar AS mungkin tetap akan memiliki pengalaman main TikTok yang sama seperti sebelumnya.

Setelah joint venture ini diumumkan, beberapa pengguna TikTok di AS mengeluhkan kebijakan privasi baru yang diklaim mengumpulkan data lebih sensitif seperti ras, kepercayaan, kewarganegaraan,orientasi seksual, status imigran, dan lain-lain.

Namun, ketentuan tersebut bukan hal yang baru karena sudah dicantumkan di kebijakan privasi TikTok sebelumnya yang terakhir diperbarui pada 19 Agustus 2024.

Pengguna TikTok juga khawatir kepemilikan baru TikTok di AS, dan keterlibatan perusahaan Ellison, akan mengubah algoritma dan moderasi konten menjadi lebih pro-Trump. Sejumlah pengguna sudah mengeluhkan tidak bisa mengirim DM dengan kata 'Epstein' di dalamnya, serta kesulitan mengunggah konten tentang Immigration and Customs Enforcement (ICE).




(vmp/afr)
TAGS







Hide Ads