Meski kecerdasan buatan (AI) tumbuh dengan pesat, ada sebagian orang yang meragukan prospek jangka panjang lulusannya. Universitas Indonesia (UI) yang baru-baru ini membuka program studi kecerdasan artifisial pun buka suara.
Kepada detikINET, Dr Erwin Panigoro Direktur Humas, Media, Pemerintah, dan Internasional UI mengatakan bahwa keraguan tersebut mungkin berakar dari asumsi bahwa yang termasuk AI hanyalah segala sesuatu yang berhubungan dengan ChatGPT atau semacamnya.
"Ini asumsi yang keliru. Ada banyak situasi dan permasalahan yang padanya solusi berbasis ChatGPT tersebut tidak dapat diterapkan atau jika diterapkan, hasilnya justru tidak cocok dengan yang diharapkan oleh pemangku kepentingan terkait," ujar Erwin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di komunitas AI, ada sebuah teorema yang disebut 'No Free Lunch Theorem' yang mengatakan tidak mungkin ada satu model AI yang memiliki kinerja terbaik di semua kemungkinan permasalahan --- jika ada model AI berhasil menjadi solusi terbaik di suatu jenis masalah, maka model AI tersebut pasti akan berkinerja buruk di suatu jenis masalah yang lainnya.
Kata Erwin, hal ini menunjukkan bahwa problem-problem di masyarakat yang membutuhkan solusi-solusi AI yang baru akan selalu ada. Lulusan Prodiska dilatih untuk mampu mewujudkan solusi-solusi tersebut sesuai harapan pemangku kepentingan tersebut, dan kurikulum Prodiska meberi bekal kemampuan teknis dan nonteknis yang memadai untuk itu.
"Beberapa jenis profesi khas AI yang sudah mulai muncul sekarang merupakan contoh-contoh pekerjaan yang dapat ditekuni oleh lulusan Prodiska, misalnya AI Engineer, AI Scientist, Data Engineer, Data Scientist, AIOps Engineer, Knowledge Engineer. Namun, tentunya dengan bekal fondasi yang kuat, serta kemampuan adaptasi yang tinggi, lulusan Prodiska dapat berkarya di berbagai lapangan pekerjaan," tegasnya.
Dengan didirikannya prodi AI, UI berharap dapat berkontribusi secara nyata untuk meningkatkan daya saing bangsa dengan menghasilkan SDM unggul yang menguasai AI yang merupakan teknologi kunci abad ke-21. Penguasaan ini diharapkan tidak berhenti pada level pengguna/pemakai teknologi dari luar, tetapi lebih dari itu, mencapai level yang lebih tinggi yang tercermin pada kemampuan menghasilkan inovasi dengan dan atas teknologi tersebut yang berdampak positif bagi masyarakat.
"Oleh karena itu, kurikulum Prodiska dirancang untuk membangun fondasi yang kuat sehingga lulusannya terus mampu beradaptasi agar tetap relevan seiring dengan cepatnya perkembangan AI itu sendiri," pungkasnya.
(ask/ask)