Kisah Inspiratif Veronika, Perempuan Indonesia Top di Boeing

Kisah Inspiratif Veronika, Perempuan Indonesia Top di Boeing

Virgina Maulita Putri - detikInet
Selasa, 19 Apr 2022 11:52 WIB
Pabrik Boeing San Antonio
Cerita Veronika, Perempuan Indonesis Inspiratif yang Kerja di Boeing Foto: CNN
Jakarta -

Menjadi perempuan minoritas yang bekerja di perusahaan teknologi asing tentu bukan hal yang mudah. Itulah yang dijalani seorang Kartini modern bernama Veronika Andrews, perempuan asal Solo, Jawa Tengah yang telah 14 tahun bekerja di Boeing, salah satu produsen pesawat komersial terbesar di dunia.

Setelah pindah ke Seattle, Washington mengikuti suaminya yang berasal dari Amerika Serikat, Veronika mengaku Boeing merupakan tempat kerja impiannya meski ia mengaku harus bekerja lebih keras untuk bisa bersaing dengan laki-laki.

"Membangun pesawat waktu itu bukan sesuatu yang bisa saya bayangkan tapi mulai saat itu saya punya komitmen untuk dapat bekerja di Boeing. Pendirian saya sudah mantap. Boeing adalah perusahaan impian saya," kata Veronika dalam webinar Perayaan Hari Kartini 2022, Selasa (19/4/2022).

"Walaupun waktu itu banyak teman-teman yang bilang bahwa Boeing itu perusahaan yang didominasi laki-laki, kamu harus berani bersaing dengan laki-laki. Saya tentu menjawab kenapa tidak," sambungnya.

Perjuangannya untuk bisa diterima sebagai karyawan Boeing tidaklah mulus. Veronika bercerita ia sempat beberapa kali ditolak sebelum akhirnya diterima di sebuah lembaga swadaya masyarakat yang menangani remaja.

Sambil bekerja, Veronika menyadari gelar sarjananya dari Universitas Sebelas Maret saja tidak cukup untuk melamar pekerjaan di Boeing. Ia kemudian bekerja sambil kuliah lagi di Everett Community College mengambil program studi ilmu komputer.

Veronika Andrews, perempuan Indonesia yang bekerja di BoeingVeronika Andrews (kanan), perempuan Indonesia yang bekerja di Boeing Foto: Screenshot/detikINET

Sudah disibukkan dengan kuliah di siang hari dan kerja di malam hari, Veronika pun masih mencari pekerjaan sampingan. Mulai dari menjadi asisten dosen sampai membersihkan rumah, semua dilakukannya untuk membiayai kuliahnya dan anak-anaknya.

Veronika dan keluarganya juga sempat pindah ke Brasil, di mana ia memanfaatkan kesempatan itu untuk belajar bahasa Portugis dan programming. Setahun kemudian ia kembali pindah ke California, AS dan menyelesaikan studinya. Setelah itu Veronika dan keluarganya kembali ke Seattle dan mencoba melamar ke Boeing lagi dan akhirnya diterima sebagai karyawan kontrak selama tiga bulan.

"Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Saya bekerja dengan aktif dan tidak hanya itu saya berusaha untuk memperkenalkan dan menawarkan diri saya ke divisi lain kalau sedang istirahat," jelas Veronika.

"Saya memberikan resume saya kepada mereka. Usaha tidak mengkhianati hasil, di akhir masa kontrak saya, saya kembali ditawari dua divisi yang berbeda. Mulai dari sini saya mendaki karier di salah satu perusahaan penerbangan Boeing," imbuhnya.

Kini Veronika menjabat sebagai Senior Project Manager di Boeing Commercial Airplane untuk 777X Avionics Common Core System. Tugas utamanya adalah membuat rencana proyek dan memimpin proyek tim yang diisi oleh insinyur-insinyur yang didominasi oleh laki-laki. Sungguh bukan jabatan dan pekerjaan main-main.

Setelah bekerja di Boeing Veronika tidak berhenti belajar. Ia menempuh pendidikan S2 di University of Phoenix dan lulus dengan pujian. Tidak hanya itu, ia juga menyisihkan waktunya menjadi mentor bagi mahasiswa di ITB dan UNS.

Veronika masih ingat bagaimana saat rapat pertamanya sebagai project manager, ia merupakan satu-satunya perempuan di ruang rapat tersebut bahkan sempat diremehkan oleh rekan kerjanya. Tapi kini ia melihat banyak perubahan positif di Boeing dan merasa semakin termotivasi.

"Kita harus percaya bahwa kita sebagai wanita harus bisa unggul di dunia teknologi yang umumnya dinilai sebagai dunia laki-laki. Masih ada persepsi bahwa pria adalah ahli teknologi yang sesungguhnya," ucap Veronika.

"Tetapi kita harus bisa mengubah konsep pemikiran seperti itu. Wanita bisa lebih baik dalam bidang engineering, memimpin proyek, menjadi pilot, dan lain sebagainya karena kita memang mampu," pungkasnya.



Simak Video "Jadi Petinggi Boeing, Veronika Andrews Cerita Sempat Diremehkan"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fay)