Pengasaman laut di kawasan Paparan Sunda tercatat meningkat dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global. Temuan ini berasal dari penelitian tujuh tahun yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Nanyang Technological University (NTU) dan National University of Singapore (NUS).
Profesor Riset Biogeokimia Laut BRIN, A'an Johan Wahyudi, menjelaskan bahwa pengasaman terjadi akibat karbon dioksida (COβ) yang larut di laut dan menurunkan pH. Penurunan kecil pada pH sudah cukup mengurangi ketersediaan ion karbonat yang dibutuhkan organisme berkalsium seperti terumbu karang dan kerang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penurunan pH laut sebesar 0,1-0,2 unit (misalnya dari 8,1 menjadi 7,9-7,8) dapat menurunkan ketersediaan ion karbonat secara signifikan dan berdampak pada organisme seperti karang dan kerang, yang artinya bisa sangat berdampak pada ekosistem laut," terangnya seperti dikutip dari situs BRIN.
Di kondisi alami, sistem karbonat laut stabil. Namun kini, COβ atmosfer terus meningkat, dan di kawasan Paparan Sunda terdapat tekanan tambahan berupa aliran karbon organik dari lahan gambut Sumatra dan Kalimantan. Bahan organik tersebut terbawa ke laut melalui sungai, kemudian terurai dan mempercepat penurunan pH.
"Di kawasan tropis seperti kita, proses biogeokimia lokal membuat pengasaman laut berlangsung lebih cepat," tambah A'an.
Paparan Sunda juga dipengaruhi oleh monsun, arus sungai besar, serta aktivitas manusia. Peneliti memotret kondisi kimia laut secara detail di Selat Singapura sebagai lokasi representatif.
Hasilnya menunjukkan bahwa pH laut sering berada di bawah angka 8, lebih rendah dari kondisi 'aman' bagi organisme berkalsium. Kemudian, kejenuhan aragonit (sebuah parameter penting bagi pertumbuhan terumbu karang) sering jatuh di bawah 2,5. Padahal, karang membutuhkan nilai 2,5-4 untuk tumbuh optimal.
Fluktuasi pH juga tergolong tinggi, mencapai 0,11-0,19 unit per tahun, dipengaruhi oleh pergantian musim monsun. Temuan yang paling menonjol adalah tren penurunan pH mencapai -0.043 unit per dekade, dua kali lebih cepat daripada rata-rata global (-0.019).
Penurunan ini terjadi karena laut menyerap COβ dari udara serta akibat penguraian bahan organik dari kawasan gambut. Kombinasi keduanya membuat kondisi di perairan ini berbeda dibandingkan wilayah lain.
"Jika kondisi menjadi lebih 'asam', kalsium karbonat akan terlarut. Artinya, karang dan organisme berkalsium tidak bisa tumbuh optimal," kata A'an.
Ketika karang melemah, seluruh ekosistem ikut terpengaruh. Keanekaragaman hayati menurun, produktivitas perikanan merosot, rantai makanan terganggu, dan pariwisata bahari pun terdampak. Ini bukan masalah kecil, mengingat, sekitar 60% penduduk Indonesia bergantung pada sumber daya pesisir untuk pangan dan penghidupan.
Dengan rentang data tujuh tahun, penelitian ini juga menghitung Trend Detection Time (TDT), yaitu waktu minimal untuk mendeteksi perubahan jangka panjang. Hasilnya menunjukkan masa deteksi minimum sekitar lima tahun.
"Artinya, dengan pemantauan rutin selama lima tahun saja, Indonesia dapat mengetahui arah perubahan kimia laut dengan akurasi tinggi, baik untuk rekonstruksi masa lalu (hindcast) maupun proyeksi masa depan (forecast)," jelas A'an.
Dengan tren penurunan sekitar 0,04 unit per dekade, jika pH saat ini berada di 8, maka dalam 10 tahun bisa turun menjadi sekitar 7,96. Secara kasat mata, angka ini tampak kecil. Tetapi bagi karang, pergeseran tersebut sangat signifikan.
Mencegah Pengasaman Laut
Pengasaman laut bukan proses yang bisa dihentikan secara instan. Namun, A'an menyampaikan beberapa langkah untuk memperlambatnya.
Pertama, mengurangi emisi karbon. Program penyerapan karbon berbasis alam, pelestarian hutan, dan pengurangan emisi industri akan sangat berpengaruh.
Kedua, Indonesia perlu membangun sistem observasi laut nasional yang tidak hanya memantau aspek fisik, tetapi juga parameter kimia penting seperti pH, tekanan COβ, oksigen, dan nutrien. Pemantauan ini dibutuhkan karena kawasan seperti Paparan Sunda dipengaruhi tidak hanya oleh COβ atmosfer, tetapi juga oleh masukan bahan organik dari lahan gambut.
"Pemantauan jangka panjang menjadi dasar mitigasi. Tanpa data yang lengkap dan konsisten, Indonesia tidak akan mengetahui kondisi laut secara akurat, sehingga kebijakan sulit disusun berdasarkan bukti," tegas A'an.
Saat ini, sistem observasi yang berjalan-umumnya oleh BMKG dan Badan Informasi Geospasial (BIG) baru mencakup parameter fisik seperti gelombang, arus, pasang surut, dan angin. Sementara pemantauan kimia dan biologi laut masih sporadis.
A'an menekankan perlunya integrasi pemantauan fisik, kimia, dan biologi dalam satu sistem sesuai standar Global Ocean Observing System (GOOS). Menurutnya, komitmen untuk membangun sistem observasi laut yang utuh menjadi langkah penting agar Indonesia mampu merespons perubahan laut dengan lebih baik.
Dengan meningkatkan pemantauan dan menekan emisi karbon, Indonesia masih memiliki peluang memperlambat laju pengasaman laut. "Kepedulian terhadap ancaman pengasaman laut ini perlu ditingkatkan. Karena hanya dengan memahami ancamannya, kita bisa mengambil langkah untuk melindungi laut kita," pungkas A'an.
(rns/rns)