Bahaya Besar Bagi Apple Jika China Latah Invasi Tetangga

Bahaya Besar Bagi Apple Jika China Latah Invasi Tetangga

Fino Yurio Kristo - detikInet
Rabu, 16 Mar 2022 18:46 WIB
People wait in line to purchase newly released products at the Apple Store in Orchard Road on September 24, 2021 in Singapore. Apple announced September 14 the release of four variants of its latest iPhone 13, alongside other upgrades to its product lineup. (Photo by Feline Lim/Getty Images)
iPhone di Apple Store. Foto: Feline Lim/Getty Images
Jakarta -

Berkenaan dengan invasi Rusia ke Ukraina, Apple menghentikan penjualan seluruh gadgetnya di Rusia, mengikuti sanksi yang diberikan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Namun jika suatu saat nanti China yang berulah, maka dinilai akan menjadi bahaya besar bagi Apple.

Tentu Apple menanggung tidak sedikit kerugian karena keluar dari pasar Rusia. Namun perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs itu tidak terlalu terpengaruh secara signifikan.

"Meskipun Apple jelas menghasilkan uang di Rusia, mereka masih bisa meninggalkannya, bahkan secara permanen jika diperlukan. Tapi Apple tak bisa melakukan itu di China, andai negara itu melakukan hal yang sama seperti Rusia," sebut MacWorld.

Hal yang sama dimaksud adalah misalnya jika nanti China memutuskan untuk menyerang Taiwan, yang dari dulu mereka anggap sebagai wilayahnya. Apalagi setelah melihat Rusia tergolong 'lancar' menyerang Ukraina, di mana negara NATO tidak melakukan konfrontasi secara langsung.

Dalam skenario China menyerang Taiwan, AS dan sekutunya mungkin akan lebih mengutamakan sanksi ekonomi, seperti yang dilakukan di Rusia. Dengan demikian, Apple bisa kelabakan. Kenapa demikian?

Sebab seperti dikutip detikINET dari 9to5Mac, Rabu (16/3/2022) Apple mempunyai ketergantungan besar pada China baik dari sisi penjualan maupun produksi. Seperti diketahui, pasokan gadget Apple banyak dihasilkan oleh pabrik yang berada di China.

"Jika Apple keluar dari China, tidak hanya mereka mengorbankan proporsi masif dari penjualan mereka di negara itu, tapi juga tidak mampu lagi memenuhi permintaan dari seluruh dunia jika manufaktur mereka di China ditinggalkan," tulis 9to5Mac.

Memang dalam beberapa tahun terakhir, Apple secara bertahap memproduksi perangkatnya di luar China, seperti di India, Vietnam dan Indonesia. Namun tetap saja belum dapat melepaskan ketergantungan besar pada China.

"Jika China menginvasi Taiwan besok, Apple akan menghadapi pilihan sulit, mengorbankan prinsipnya dan terus produksi di China, atau meninggalkan pusat manufaktur terbesarnya dan melihat penjualannya melempem karena tak bisa memenuhi permintaan," sebut 9to5Mac.



Simak Video "Rusia Tegaskan Tak Akan Gunakan Nuklir untuk Ukraina"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)