Perusahaan Orang Terkaya di Dunia Disebut Tempat Kerja 'Toxic'

Perusahaan Orang Terkaya di Dunia Disebut Tempat Kerja 'Toxic'

Virgina Maulita Putri - detikInet
Jumat, 01 Okt 2021 18:00 WIB
WASHINGTON, DC - MAY 09: Jeff Bezos, owner of Blue Origin, introduces a new lunar landing module called Blue Moon during an event at the Washington Convention Center, May 9, 2019 in Washington, DC. Bezos said the module will be used to land humans the moon once again.
 (Photo by Mark Wilson/Getty Images)
Perusahaan Orang Terkaya di Dunia Disebut Tempat Kerja yang 'Toxic' Foto: Mark Wilson/Getty Images
Jakarta -

Perusahaan Jeff Bezos kembali dikritik soal kondisi tempat kerjanya yang dianggap tidak kondusif. Setelah Amazon, kini giliran Blue Origin yang disebut sejumlah karyawannya sebagai tempat kerja yang 'toxic'.

21 mantan dan karyawan Blue Origin saat ini menuliskan esai yang mengungkap kondisi tempat kerjanya yang dianggap tidak pantas. Mereka mengklaim Blue Origin membiarkan seksisme di tempat kerja, mengabaikan masalah keselamatan, dan membungkam protes karyawan.

Salah satu penulis esai ini adalah Alexandra Abrams, mantan Head of Employee Communications Blue Origin. Abrams bekerja di perusahaan antariksa tersebut selama 2,5 tahun sebelum akhirnya dipecat pada tahun 2019.

Esai tersebut menjelaskan bagaimana petinggi dan teknisi senior Blue Origin yang semuanya laki-laki berperilaku seksis kepada karyawan perempuan. Termasuk salah satu mantan eksekutif yang sering bertanya soal kehidupan asmara karyawan perempuan dan memanggil mereka dengan sebutan 'baby girl', 'baby doll', atau 'sweetheart'.

Eksekutif itu kabarnya dilindungi oleh perusahaan karena memiliki hubungan dekat dengan Bezos. Ia kemudian dipecat setelah ketahuan meraba seorang karyawan perempuan.

Selain itu, esai ini juga menuduh CEO Blue Origin Bob Smith membungkam kritik dengan mencegah karyawan mengajukan pertanyaan saat town hall internal serta meminta rekan kerja untuk mencari dan membuat daftar 'pembuat onar' di perusahaan.

Dalam keterangan resminya, juru bicara Blue Origin mengatakan mereka tidak menoleransi praktek diskriminasi dan pelecehan dalam bentuk apa pun. "Kami menyediakan banyak jalur bagi karyawan, termasuk hotline anonim 24/7, dan akan segera menyelidiki klaim pelanggaran," kata juru bicara Blue Origin, seperti dikutip dari The Verge, Jumat (1/10/2021).

Juru bicara itu juga mengatakan Abrams dipecat setelah menerima banyak peringatan karena masalah terkait regulasi ekspor. Abrams membantah klaim tersebut, dan mengatakan ia tidak pernah menerima peringatan apa-apa dari manajemen Blue Origin.

Yang cukup parah, Blue Origin diklaim mengabaikan masalah keselamatan saat membangun roket demi bisa bersaing dengan perusahaan antariksa lainnya, seperti SpaceX milik Elon Musk dan Virgin Galactic milik Richard Branson. Bahkan teknisi yang ikut menulis esai tersebut mengaku enggan menumpangi roket Blue Origin karena merasa tidak aman.

"Bersaing dengan miliarder lainnya -- dan 'membuat progres untuk Jeff' -- tampaknya lebih diutamakan daripada masalah keamanan yang akan memperlambat jadwal," tulis esai tersebut.

Selain isu keselamatan dan seksisme, esai tersebut juga mengkritik rekam jejak Bezos dan Blue Origin soal isu lingkungan. Mereka juga mengatakan kondisi kerja yang penuh tekanan membuat beberapa karyawan mengalami masalah kesehatan mental.

Esai ini diterbitkan di waktu yang tidak tepat bagi Blue Origin. Setelah gagal mendapatkan kontrak untuk misi ke Bulan, Blue Origin menggugat NASA agar bisa mendapatkan kesempatan membangun wahana pendarat kedua. Bezos bahkan sampai menawarkan USD 2 miliar ke NASA agar bisa memenangkan kontrak itu.

Blue Origin sendiri baru pertama kali meluncurkan penerbangan berawak ke luar angkasa pada bulan Juli lalu. Bezos merupakan salah satu penumpang penerbangan tersebut, bersama saudaranya Mark Bezos, Wally Funk dan Oliver Daemen.



Simak Video "Persiapan Jeff Bezos Jelang Perjalanan ke Luar Angkasa"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fyk)