Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Viral 'Mata Tuhan' Berbasis AI Petakan Detik-detik Serangan AS ke Iran

Viral 'Mata Tuhan' Berbasis AI Petakan Detik-detik Serangan AS ke Iran


Adi Fida Rahman - detikInet

Mata Tuhan Serangan AS ke Iran
Viral 'Mata Tuhan' Berbasis AI Petakan Detik-detik Serangan AS ke Iran Foto: x/@bilawalsidhu
Jakarta -

Sebuah video visualisasi futuristik viral di platform X (sebelumnya Twitter) setelah seorang developer teknologi memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk merekonstruksi secara 4D serangan militer bertajuk Operation Epic Fury ke Iran.

Proyek ini dijuluki netizen sebagai "Mata Tuhan" karena mampu menampilkan peristiwa perang secara menyeluruh dari perspektif global, lengkap dengan elemen waktu yang bisa digeser menit demi menit.

Adalah Bilawal Sidhu, mantan Product Manager di Google yang kini fokus pada kecerdasan spasial dan pemodelan dunia digital, yang membagikan rekonstruksi tersebut. Dalam unggahannya, ia mengaku melepas "swarm" agen AI untuk mengumpulkan seluruh sinyal Open Source Intelligence (OSINT) yang tersedia sebelum data-data tersebut hilang dari cache internet.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Serangan ke Iran dimulai, dan saya langsung melepas sekumpulan agen AI untuk merekam setiap sinyal OSINT yang bisa saya temukan sebelum data itu hilang dari cache. Hasilnya adalah rekonstruksi 4D penuh di WorldView," tulis Sidhu.

Postingan itu ditonton lebih dari 3 juta kali dan menuai ribuan respons, menunjukkan bagaimana AI kini mampu mengubah data publik menjadi visualisasi intelijen geospasial yang kompleks.

Rekonstruksi 4D

Visualisasi yang dibuat melalui tool bernama WorldView menampilkan globe 3D dengan berbagai overlay data real-time. Pengguna dapat "menggeser waktu" untuk melihat bagaimana peristiwa berkembang secara kronologis.

Beberapa elemen yang ditampilkan dalam rekonstruksi tersebut antara lain:

  • Pembersihan wilayah udara di atas Tehran
  • Penguncian koordinat serangan darat
  • Gangguan GPS skala besar
  • Satelit Electro-Optical (EO) dan Synthetic Aperture Radar (SAR) yang melintas
  • Zona larangan terbang di sembilan negara
  • Pergerakan armada kapal di Selat Hormuz

Antarmukanya menampilkan jalur pesawat berwarna merah, zona jamming GPS hijau, serta label seperti "Iran Airspace Closed". Sekilas, tampilannya menyerupai adegan film fiksi ilmiah, padahal seluruhnya dibangun dari data publik seperti ADS-B (pelacakan pesawat), AIS (pelacakan kapal), citra satelit Copernicus dan Landsat, serta laporan media sosial.

Sidhu menegaskan bahwa proyek ini tidak menggunakan proprietary data fusion, melainkan murni pemrosesan data terbuka dengan kecerdasan buatan.

Apa Itu Operation Epic Fury?

Mata Tuhan Serangan AS ke Iran ekonstruksi 4D dari operasi militer 'Operation Epic Fury'. Foto: x/@bilawalsidhu
Operation Epic Fury adalah operasi militer yang dipimpin Amerika Serikat bersama Israel, dimulai pada 28 Februari 2026. Operasi ini menargetkan fasilitas nuklir, situs rudal, serta infrastruktur militer Iran.

Menurut laporan resmi US Central Command (CENTCOM), serangan awal difokuskan pada komando IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps), sistem pertahanan udara, dan lapangan terbang militer. Pemerintah AS menyebut operasi tersebut bertujuan mencegah Iran mengembangkan kemampuan senjata nuklir serta melemahkan jaringan militernya di kawasan.

Peristiwa ini memicu eskalasi geopolitik signifikan di Timur Tengah, termasuk gangguan lalu lintas udara dan maritim di wilayah Teluk Persia.

Reaksi Warganet

Viralnya proyek "Mata Tuhan" memunculkan diskusi baru tentang masa depan intelijen terbuka. Jika satu developer dapat menyusun gambaran konflik berskala global hanya dari data publik, maka batas antara intelijen negara dan intelijen sipil semakin kabur.

Sejumlah pengguna X memuji proyek tersebut sebagai contoh bagaimana OSINT dan AI agent dapat membentuk ulang akses terhadap informasi strategis.

Mata Tuhan Serangan AS ke IranMata Tuhan Serangan AS ke Iran Foto: x/@bilawalsidhu

"Fakta bahwa satu orang dengan data publik dapat membangun sesuatu yang dulunya membutuhkan anggaran dari lembaga dengan tiga huruf (lembaga khusus) adalah inti ceritanya. Kawanan agen untuk OSINT (Open Source Intelligence) benar-benar merupakan kasus penggunaan yang paling diremehkan saat ini... kebanyakan orang berpikir agen AI berarti chatbot atau pembuatan kode, tetapi mengoordinasikan lusinan tugas pengumpulan data secara paralel sementara sumber masih aktif adalah di mana arsitektur sebenarnya penting," ujar @rv_RAJvishnu.

"Sekumpulan agen AI merekam setiap sinyal OSINT sebelum cache dibersihkan. Rekonstruksi 4D operasi militer di laptop. Sejujurnya, ini dulu membutuhkan izin kontraktor pertahanan," kata @thinklikekai.

"Keren banget, mengingatkan saya pada program Earth dari Snow Crash, bedanya alih-alih Stringer/Gargoyle, yang ini menggunakan agen AI untuk OSINT," ucap @dankvr.

Sidhu sendiri berencana merilis WorldView secara publik pada April 2026. Ia menyebut proyek ini sebagai "just the beginning", menandakan bahwa kemampuan AI dalam memetakan dunia secara real-time baru memasuki tahap awal.

Dengan kemajuan AI spasial dan integrasi data terbuka, konsep "Mata Tuhan" tampaknya bukan lagi sekadar metafora. Kini, siapa pun dengan kemampuan teknis dan akses internet bisa melihat konflik global dari sudut pandang yang sebelumnya hanya dimiliki lembaga intelijen.




(afr/afr)






Hide Ads