Jack Ma yang Tak Henti Dihajar Xi Jinping

Round-up

Jack Ma yang Tak Henti Dihajar Xi Jinping

Tim - detikInet
Minggu, 11 Apr 2021 12:42 WIB
Jack Ma menghilang dari pandangan publik. Sebelumnya pemilik Alibaba dan Ant Group itu mengkritik regulator China pada konferensi di Shanghai pada Oktober 2020.
Jack Ma yang Tak Henti Dihajar Xi Jinping Foto: AP Photo
Jakarta -

Setelah mengkritik sistem keuangan China yang disebut telah usang, Jack Ma terus-terusan ditekan oleh pemerintahan Xi Jinping. Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan besutan Jack Ma ada yang dijatuhi denda, diancam dilepas paksa, dan aplikasinya ditarik dari publik.

Sebagai pendiri raksasa teknologi, Alibaba, wajar jika Jack Ma mendapat perhatian khusus dari Beijing. Berikut rangkuman beberapa hukuman dan ancaman yang ditebar pemerintah China kepada bisnis Jack Ma dalam sebulan terakhir:

1. UC Browser ditarik dari toko aplikasi

Pada pertengahan Maret 2021, aplikasi UC Browser yang dimiliki Alibaba dilenyapkan dari toko aplikasi Android di China. Aplikasi ini menghilang setelah UC Browser dikritik di sebuah acara yang disiarkan di stasiun televisi milik negara karena menampilkan iklan medis yang menyesatkan.

Acara tersebut menuduh UC Browser mengizinkan rumah sakit swasta untuk menawar 'nama rumah sakit paling terkenal di China' dalam kata kunci pencarian. Sehingga berpotensi memikat pasien ke situs web mereka alih-alih rumah sakit umum yang seharusnya dikunjungi.

Usai kejadian tersebut, sebagian besar toko aplikasi Android China, termasuk yang dioperasikan oleh Huawei, Xiaomi dan Tencent, telah menghapus UC Browser. Menghapus aplikasi dalam jangka waktu tertentu adalah hukuman umum di China bagi perusahaan yang dianggap melanggar aturan.

Pihak UC Browser sendiri sudah menanggapi hal tersebut. Mereka akan melakukan koreksi dan konten yang dipermasalahkan telah dihapus.

Hilangnya UC Browser dari toko aplikasi Android di China terjadi sehari setelah presiden Xi Jinping mengeluarkan peringatan keras kepada sektor teknologi negara itu lantaran ukuran dan pengaruhnya yang semakin besar.

Mereka berencana memperketat regulasi perusahaan internet besar. Grup Alibaba yang menyumbang sekitar sepersepuluh dari penjualan ritel di negara itu menjadi target utama tindakan keras tersebut.