Orang Terkaya Dunia Diprediksi Bakal Bangkrut Karena 3 Hal

Orang Terkaya Dunia Diprediksi Bakal Bangkrut Karena 3 Hal

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 17 Des 2020 09:55 WIB
Pendiri Amazon Jeff Bezos Sumbang US$ 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Orang Terkaya Dunia Diprediksi Bakal Bangkrut Karena 3 Hal. Foto: DW News
Jakarta -

CEO Amazon Jeff Bezos menjadi orang terkaya dunia berkat pundi-pundi yang dihasilkan dari perusahaannya. Namun, pakar retail Doug Stephens memprediksi Amazon bisa jatuh dalam dekade mendatang, bahkan bangkrut.

Di halaman website Business of Fashion miliknya, pendiri Retail Prophet dan penasihat sejumlah merek ternama di dunia ini meramalkan akhir perjalanan Amazon.

"Saya pikir dalam sepuluh tahun bisnis Amazon akan menurun dan ini hanya beberapa alasannya," tulis Stephens seperti dikutip dari Entrepreneur. Berikut ini tiga hal yang diprediksinya akan membuat Amazon dan Jeff Bezos bangkrut.

Amazon ikuti jejak Walmart

Salah satu alasan kemungkinan bangkrutnya raksasa ritel online ini adalah karena mengikuti pola yang sama dengan perusahaan lain. Stephens memberi contoh pada Walmart.

"Antara 1962 dan awal 2000-an, Walmart memimpin bisnis ritel, mengalahkan puluhan pesaing besar dan kecil. Pada 2010, Walmart secara mengejutkan telah membuka 4.393 toko. Lebih dari 3.000 di antaranya dibuka setelah tahun 1990," jelas Stephen.

Namun kemudian, setelah mengalami penurunan besar dalam penjualan pada tahun 2015, Walmart gagal lepas landas di ranah ritel online.

"Penurunan yang dialami sang raksasa yang dulunya tak bisa ditembus, telah menunjukkan bahwa bahkan perusahaan paling besar pun bisa jatuh," kata Stephens.

Amazon tawarkan efisiensi, tapi bukan pengalaman berbelanja

Sang pakar menganggap berbahaya jika Bezos berniat mempertahankan model operasional yang sama untuk jangka panjang.

"Dalam bisnis ritel, kita tahu bahwa pelanggan menginginkan harga murah, dan saya tahu hal itu benar adanya 10 tahun dari sekarang. Mereka menginginkan pengiriman cepat, mereka menginginkan banyak pilihan," ujarnya.

Namun, Stephens percaya bahwa orang tak hanya membeli karena mereka menginginkan produknya secepat mungkin. Mereka juga menginginkan pengalaman berbelanja yang lengkap seperti keluar rumah, menyentuh produk, membandingkan satu sama lain, mencoba hal baru atau mendapatkan inspirasi. Artinya, Amazon terbatas pada efisiensi pembelian online tapi tidak menawarkan pengalaman berbelanja yang diinginkan konsumen.



Fokus pada layanan pelanggan hilang

Ketika sebuah perusahaan memiliki pemimpin yang kuat seperti Jeff Bezos, artinya perusahaan tidak akan berfungsi tanpa dia. Stephen memprediksi bahwa saat Amazon melanjutkan ekspansinya, sosok Bezos bisa tenggelam atau menghilang.

Maka, bisa jadi Amazon kehilangan misi awalnya, yaitu kepuasan pelanggan, untuk memprioritaskan optimalisasi proses berdasarkan angka dan data. Stephen juga memperkirakan perusahaan akan lebih sedikit berinovasi.

"Energi, ketika diarahkan untuk meningkatkan bisnis, akan habis hanya untuk bekerja memelihara infrastruktur organisasi," kata Stephens.

Dia juga menyebut alasan lain dari potensi kejatuhan Amazon, seperti lingkungan kerja yang toxic menurut sejumlah laporan dan migrasi sejumlah mitra saat ini ke platform pengiriman lain yang lebih ramah pengguna.

Menurutnya, kombinasi faktor-faktor ini dapat menyebabkan Amazon menderita kerugian selama dekade berikutnya dan digantikan oleh perusahaan serupa lainnya yang menawarkan kondisi yang lebih baik bagi mitra, pekerja, dan pelanggan.



Simak Video "Andy Jassy, Sang Jawara Komputasi yang Bakal Gantikan Jeff Bezos"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)