Waduh, Facebook Dipakai Jualan Artefak Curian Bersejarah

Waduh, Facebook Dipakai Jualan Artefak Curian Bersejarah

Fitraya Ramadhanny - detikInet
Senin, 29 Jun 2020 09:02 WIB
Workers carry mummified cats outside the tomb of Khufu-Imhat, at the Saqqara area near its necropolis, in Giza, Egypt November 10, 2018. REUTERS/Mohamed Abd El Ghany
Ilustrasi artefak bersejarah (REUTERS/Mohamed Abd El Ghany)
Jakarta -

Facebook bisa dipakai untuk mempromosikan barang jualan. Tapi kalau yang dijual adalah artefak bersejarah hasil curian, bahaya nih urusannya.

Para akademisi dan liputan BBC mengangkat masalah penjualan artefak bersejarah di Facebook. Artefak ini adalah hasil jarahan dari situs bersejarah di Irak dan Suriah yang porak poranda akibat perang.

Facebook pun akhirnya mendengarkan protes para akademisi. Dilansir Daily Mail, Senin (29/6/2020) Facebook akhirnya mengubah aturan Facebook Community Standards.

Facebook pun melarang penggunanya untuk membeli, menjual, memperdagangkan, mendonasikan, menghadiahkan artefak bersejarah dalam postingan mereka. Artefak ini contohnya koin kuno, gulungan dokumen, manuskrip, patung, mosaik bahkan bagian tubuh mumi.


"Artefak bersejarah punya nilai budaya penting untuk masyarakat di seluruh dunia, menjualnya adalah tindakan yang buruk," kata Manajer Kebijakan Publik Facebook, Greg Mandel kepada BBC.

Facebook mengatakan komitmennya untuk mencegah penjualan artefak curian. Mereka melarang pertukaran, penjualan atau pembelian benda bersejarah di Facebook dan Instagram.

Facebook juga menyiapkan artificial intelligence untuk mengidentifikasi postingan benca bersejarah. Ini adalah langkah yang dinilai positif, sebagai tindak lanjut laporan berita BBC dan desakan para arkeolog.


Tahun 2019, BBC menemukan artefak Romawi dari Suriah dijual di Facebook. Ada juga manuskrip era kejayaan Islam dijual di Turki. Facebook pun telah menutup 49 grup terkait penjualan artefak bersejarah.

Profesor Amr Al Azm dari Shawnee State University, Ohio, AS mengatakan sangat prihatin dengan penjualan artefak secara terang-terangan di media sosial. Dia mengatakan masih ada sekitar 120 grup di Facebook dengan anggota paling banyak 437 ribu orang.

Grup ini menjangkau sampai Timur Tengah dan Afrika Utara. Ada juga pasar gelap yang mendanai organisasi kriminal, faksi perang dan kelompok radikal.

bensu


Simak Video "Pandemi Corona, Facebook Gaming Dirilis Lebih Cepat"
[Gambas:Video 20detik]
(fay/agt)