Sabtu, 24 Agu 2019 17:05 WIB

Belum Mengaspal, Gojek Ditentang di Malaysia

Adi Fida Rahman - detikInet
Foto: dok. Instagram Gojek Foto: dok. Instagram Gojek
Jakarta - Pemerintah Malaysia telah memberi lampu hijau bagi Gojek untuk hadirkan layanan ojek online di Negeri Jiran. Banyak yang mendukung, tapi tidak sedikit yang menentang, salah satunya datang dari penyedia taksi online MyCar.

Pendiri MyCar Mohd Noah Maideen mengatakan selain faktor keamanan dan pelanggaran norma, hadirnya layanan ojek online menimbulkan persaingan tidak sehat antar perusahaan e-hailing lokal.


"Sebagai perusahaan yang baru beroperasi selama satu setengah tahun, tidak bijaksana untuk bersaing dengan perusahaan asing yang telah beroperasi selama lebih dari delapan tahun," katanya dalam konferensi pers, seperti dilansir dari New Straits Times, Sabtu (24/8/2019).

Lanjut dikatakannya saat ini ada lebih dari 30 perusahaan e-hailing di Malaysia yang telah disetujui oleh Land Transport Transport Agency (APAD). Pihaknya pun siap untuk bekerja dengan pihak berwenang guna meningkatkan layanan MyCar menuju peningkatan fasilitas transportasi umum di negara itu.

Noah turut mempertanyakan kenapa Gojek diberi lampu hijau. Padahal belum lama ini ada layanan Dego Ride yang diperkenalkan oleh operator lokal, tetapi tidak disetujui oleh pihak berwenang.

"Kenapa, tiba-tiba ingin membawa Gojek? Jika niatnya adalah untuk menyediakan lapangan kerja, terutama untuk "Mat Rempit", ada inisiatif yang lebih baik, termasuk sebagai pengantar, sebuah karier yang dikembangkan oleh aplikasi Food Panda," pungkas Noah.


Dilansir dari CNBC Indonesia, Pendiri Big Blue Taxi Shamsubahrin Ismail memprotes keputusan Kabinet Perdana Menteri Mahathir Mohamad yang memberi restu beroperasinya Gojek di Malaysia. Menurutnya itu langkah mundur dan dia pun siap mengadakan aksi protes jika proposal tersebut disetujui pemerintah Malaysia.

Saya sendiri yang akan memimpin protes, kita akan pergi ke Putrajaya, dan jika mungkin, kita akan melakukannya di depan rumah Syed Saddiq (Menteri Pemuda dan Olahraga) dan rumah Loke (Menteri Transportasi)," kata Shamsubahrin dalam konferensi pers yang dikutip dari Free Malaysia Today.

"Gojek menjadi karier tidak akan menjamin masa depan yang menjanjikan, anak muda kita pantas mendapatkan yang lebih baik dari itu," lanjutnya.

Saat CEO Gojek Grup Nadiem Makarim bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia Mahathir MohamadSaat CEO Gojek Grup Nadiem Makarim bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad Foto: Instagram


Shamsubahrin mengungkapkan Malaysia dan Indonesia memiliki banyak perbedaan termasuk budaya. Atas dasar itu dia menilai seharusnya pemerintah Malaysia tidak mendorong anak mudah untuk menjadi ojek online sebagai mata pencarian.

"Gojek bisa dilakukan di Indonesia karena tingkat kemiskinannya sangat tinggi, tidak seperti di Malaysia. Budaya mereka juga sangat berbeda dibandingkan dengan kita. Di Indonesia, wanita dapat memeluk driver (sebagian besar pengendara adalah pria) begitu saja tetapi bagaimana dengan Malaysia? Apakah kita ingin melihat wanita kita memeluk driver di sana-sini? " ujarnya.


Dia mengatakan ada banyak pekerjaan permanen lainnya yang bisa ditawarkan kepada kaum muda. "Gojek, FoodPanda, GrabFood semuanya menawarkan pekerjaan paruh waktu. Sebaliknya, kaum muda harus diberikan kesempatan kerja yang lebih baik," tambahnya.

Dia memperingatkan kebijakan ini akan memengaruhi pengemudi taksi, pengemudi e-hailing dan sopir bus

"Ini akan menjadi kesalahan besar jika Kabinet setuju. Ini bukan ancaman tetapi jangan berpikir bahwa popularitas PH (Partai Pakatan Harapan) akan meningkat atau dapat memenangkan pemilihan umum berikutnya, "tambahnya.

Simak Video "Akselerasi Startup Lain, Gojek Tak Ingin Sukses Sendirian"
[Gambas:Video 20detik]
(afr/afr)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com