Ada sesuatu yang ditinggalkan, ada sesuatu yang dituju. Meninggalkan hal-hal yang buruk menuju hal yang baik.
Dalam konteks sejarah, hijrah dimaknai perpindahan dari kota Mekah ke kota Medinah. Dari keadaan dimana komunitas kota yang penuh dengan kekufuran menuju keimanan dan kebenaran sehingga tercipta suatu kota yang sejahtera.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Membangun kota sama dengan membangun peradaban, karena kota tidak hanya terdiri dari bangunan saja tetapi segenap kehidupan manusia dan segala aktivitas di kotanya.
Kondisi kota yang mungkin disebabkan karena urbanisasi telah menyebabkan ketidakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan kota. Kemacetan, banjir, kesehatan, lingkungan kota dll telah menjadi persolanan kota akhir akhir ini.
Selain persoalan karakter manusia yang melupakan atau ketidakmengertian akan mengendarai kendaraan, membuang sampah, berkomunikasi santun, korupsi dll juga telah memberikan suatu konstribusi ketidaknyamanan kehidupan kota.
Teknologi yang juga merupakan karya besutan manusia telah menghasilkan solusi persoalan kota, seperti Internet of things, Machine to Machibe, sensor, big data hingga Cloud computing.
Namun demikian teknologi itu sendiri mungkin tidak bisa menyelesaikan persoalan dengan baik, jika tidak ada tata kelola yang baik untuk mengubah atau hijrah ke suatu peradaban yang lebih baik.
Hijrah bisa dikaitkan dengan inovasi yaitu suatu cara atau metode baru atau gabungan dengan yang lama dimana memberikan dampak yang lebih baik.
Hijrah kota adalah transformasi/pembangunan dari kota yang belum baik menuju kota yang lebih baik.
Kota cerdas alias smart city akhir-akhir ini telah mencuat di banyak kota dan kabupaten di Indonesia, beberapa forum telah diperhelatkan, hingga tukar menukar aplikasi telah mulai dilakukan.
Beberapa persepsi kota cerdas perlu dikuatkan lagi, karena ada yang mengira bahwa kota cerdas adalah kota yang mempunyai command center atau kota yang mempunyai banyak aplikasi.
Ada kasus, suatu kota mempunyai suatu aplikasi tertentu, tetapi warganya tidak tahu, bagaimana cara menggunakannya. Demikian juga ruang operasi atau ruang komando, masih banyak yang dipakai sebagai ruang pamer saja. Jika ada kemacetan belum juga bisa mengendalikan bagaimana mengurai kemacetan dengan cepat.
Rumit memang, tetapi itulah makna hijrah, yang bisa dimulai dari orang sebagai pribadi hingga pemimpin yang mempunyai otoritas memutuskan untuk bertransformasi.
Transformasi kota menjadi kota cerdas, tidaklah sederhana dengan aplikasi dan dilakukan dalam waktu singkat, tetapi perlu evolusi dan komitmen yang luar biasa antara pimpinan, birakrasi dan juga keterlibatan masyarakat.
Konsep gotong royong (co-creation), juga suatu mekanisme yang baik sehingga melibatkan segenap unsur yang menjadi pemangku kepentingan.
Model pembangunan kota cerdas sudah merupakan kebutuhan, jika tidak nanti akan banyak kota atau kabupaten jalan dengan masing masing caranya atau vendornya yang akhirnya malah menjadi sulit berintegrasi.
Selamat Tahun Baru Hijriah 1 Muharam 1438 H. Semoga kita bisa berinovasi melakukan perubahan kehidupan kita dan kota menjadi lebih baik.
*) Penulis, Suhono Harso Supangkat merupakan penggiat inovasi transformasi kota dan juga Guru Besar ITB. (ash/ash)