Hal tersebut terungkap dalam seminar Tren Teknologi untuk Koperasi yang diselenggarakan Pengurus Pusat Koperasi Kredit Bali, Sabtu (23/1/2016). Seminar yang berlangsung di Denpasar ini menghadirkan Rusmanto, Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri sebagai pembicaranya.
Dikatakan Rusmanto, saat ini banyak kalangan perusahaan (termasuk koperasi) beralih dari software proprietary (tertutup) ke open source untuk menjalankan bisnisnya. Menurutnya ini dikarenakan software open source tersedia bebas di internet dan dapat digunakan tanpa biaya royalti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu Rusmanto mengajak kalangan Koperasi di Pulau Dewata untuk migrasi ke software open source. Terlebih semakin banyak anggota koperasi yang menggunakan tablet atau handphone.
"Para pengelola koperasi dituntut mengikuti perubahan dan tren ini jika tidak ingin ditinggalkan anggotanya. Anggota koperasi yang memiliki komputer tablet atau smartphone tentu ingin dimudahkan dalam berurusan dengan koperasi menggunakan gadget-nya," kata Rusmanto seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima detikINET.
"Sistem informasi koperasi harus berbasis web atau mobile, sehingga pengguna koperasi dapat melihat simpanan, menyetor iuran, dan mengajukan pinjaman cukup dengan menyentuh layar hp atau tabletnya," sambungnya.
Lebih lanjut dikatakannya, biaya layanan atau sewa sistem informasi koperasi berbasis web dan cloud tidak mahal. Salah satu penyedia layanan cloud mengenakan biaya per bulan hanya sekitar Rp 150 ribu untuk sebuah koperasi.
"Pengurus koperasi tidak perlu memiliki sendiri ahli teknologi informasi. Sebab software koperasinya ada di internet dan dikelola pihak lain yang dipercaya," pungkasnya.
(afr/afr)