Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Karyawan Diprediksi Bersatu Melawan Ancaman Digusur AI

Karyawan Diprediksi Bersatu Melawan Ancaman Digusur AI


Fino Yurio Kristo - detikInet

Businesswomen leverage artificial intelligence to analyze market data to identify target audiences and business growth trends, crafting effective marketing strategies and gaining a competitive edge.
Foto: Getty Images/Prae_Studio
Jakarta -

Menurut beberapa pakar ketenagakerjaan, ancaman AI mungkin akan menjadi pemicu utama menguatnya serikat pekerja. AI bisa dipandang ancaman eksistensial terhadap mata pencaharian pekerja yang dapat menyatukan mereka melawan musuh bersama.

Dalam wawancara dengan Guardian, Sarita Gupta, Vice President Ford Foundation dan salah satu penulis buku The Future We Need, berpendapat bahwa AI menciptakan peluang kebangkitan kembali gerakan buruh.

"Seiring berjalannya waktu, serikat pekerja kehilangan daya tawar kolektif dan banyak di antaranya disebabkan kurangnya undang-undang yang kita butuhkan serta penegakan hukumnya. Selama empat dekade, produktivitas melonjak sementara upah stagnan dan tingkat serikat pekerja menyentuh titik terendah dalam sejarah," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saat Anda melihat seorang insinyur software muda di Silicon Valley menyadari kinerjanya dilacak atau diremehkan oleh logika yang sama seperti seorang pekerja gudang, sekat-sekat kelas memudar dan gerakan kelas pekerja yang lebih besar untuk menuntut martabat menjadi mungkin terjadi. Itulah yang mulai kita saksikan," sebutnya.

Baik pekerja kantoran maupun pekerja kasar kerah biru sama-sama menderita melalui salah satu periode pemutusan hubungan kerja (PHK) terparah sejak tahun 2009. Sementara itu, jajak pendapat terbaru menemukan 71% orang Amerika khawatir AI akan membuat terlalu banyak orang kehilangan pekerjaan secara permanen.

ADVERTISEMENT

Dan menurut Economic Policy Institute, lebih dari 50 juta pekerja Amerika di semua industri menginginkan perwakilan serikat pekerja pada tahun 2025, tapi tidak bisa mendapatkannya.

Seiring meningkatnya ketidakpuasan, para taipan bisnis terdengar semakin gugup menghadapi dampaknya. Setelah lebih dari 50.000 warga Minnesota mogok kerja dalam protes yang dipimpin serikat pekerja menentang pembunuhan Renee Good dan Alex Pretti oleh agen federal, lebih dari 60 eksekutif lokal menulis surat yang menyerukan penurunan ketegangan sesegera mungkin.

Agar upaya melawan AI membuahkan hasil, semuanya bergantung sepenuhnya pada kemampuan para pekerja untuk mengubah ketidakpuasan menjadi kekuatan yang terorganisir.

"Kita harus selalu mengingatkan diri sendiri bahwa arah teknologi adalah sebuah pilihan, bukan? Kita bisa menggunakan AI untuk membangun ekonomi pengawasan yang memeras setiap tetes keringat seorang pekerja atau kita bisa menggunakannya untuk membangun era kemakmuran bersama," tutup Gupta yang dikutip detikINET dari Futurism.




(fyk/fyk)
TAGS





Hide Ads
LIVE