Dikatakan tertutup karena Red Star OS yang berbasis Linux ini dibekali dengan banyak perlindungan di dalamnya. Salah satu contohnya adalah kalau misalnya pengguna menyimpan atau mengkopi suatu file ke flashdisk dari Red Star, OS ini akan memberikan watermark di file tersebut. Tujuannya disebut agar file tersebut bisa dilacak kalau-kalau disalahgunakan.
Tapi itu belum ada apa-apanya. Tak seperti OS lainnya yang bisa diutak-atik hingga ke file sistemnya, kalau ada yang coba mengutak-atik file sistem di dalam Red Star OS, secara otomatis sistem akan langsung melakukan reboot. Red Star OS sepertinya sangat paranoid sama yang namanya modifikasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan segala pembatasan di Red Star OS tersebut, bisa dipastikan pemerintah Korea Utara sangat ingin tetap menjaga apapun yang ada di dalam negaranya tetap terisolasi, bahkan termasuk OS buatannya. Meski mungkin ada orang yang mampu mengutak-atik Red Star OS untuk mempelajari isinya, siap-siap dengan risikonya yakni dilacak oleh pihak Korea Utara. Demikian seperti detikINET kutip dari Engadget, Senin (28/12/2015).
(yud/ash)