Kominfo: Perang Hacker Indonesia-Australia Bikin Resah

Kominfo: Perang Hacker Indonesia-Australia Bikin Resah

- detikInet
Rabu, 20 Nov 2013 11:17 WIB
Ilustrasi (Ist.)
Jakarta - Hubungan memanas antara hacker Indonesia dan Australia tak terelakkan. Hal ini sebagai imbas dari adanya tudingan penyadapan yang dilakukan oleh Australia kepada Indonesia.

Saling serang hacker kedua negara bahkan tak lagi sekadar aksi usil. Menurut laporan yang masuk ke Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), kelompok hacker Anonymous Australia coba melancarkan serangan yang ditujukan ke infrastruktur strategis milik Indonesia.

Informasi ini berasal dari seseorang yang menyatakan dirinya sebagai Anonymous Australia seperti yang diungkap di situs Pastebin. Dalam laporan itu disebutkan bahwa telah dilakukan peretasan pada berbagai situs di Indonesia, antara lain situs soloairport.com, Garuda Indonesia, Angkasa Pura dan situs pendidikan.

Menurut Kepala Humas dan Pusat Informasi Kementerian Kominfo Gatot S. Dewa Broto, rangkaian aktifitas peretasan ini diduga merupakan dampak dari pengakuan mantan agen NSA Edward Snowden yang mengungkap bahwa Amerika Serikat dan Australia telah melakukan aktifitas penyadapan terhadap informasi yang dimiliki oleh sejumlah negara termasuk Indonesia.

"Sebelumnya tersiar kabar bahwa Anonymous dari Indonesia telah melakukan peratasan pada berbagai infrastruktur strategis milik pemerintah Australia. Informasi-informasi tersebut pada akhirnya memicu keresahan, polemik dan tanda tanya dari berbagai pihak mengenai apa yang sebenarnya terjadi," lanjut Gatot, dalam keterangannya, Rabu (20/11/2013).

Kementerian Kominfo melalui Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure / Coordination Center (Id-SIRTII/CC) sendiri terus melakukan investigasi secara cepat dan berkoordinasi dengan pihak Australia Computer Emergency Response Team (CERT-Australia) terkait dengan informasi tersebut dan menjaga agar informasi ini tidak menambah ketegangan di antara masing-masing negara.

"Adapun hasil investigasi sejauh ini menyatakan bahwa informasi yang beredar tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," tegas Gatot.

Ia menambahkan, pemberitaan informasi terkait dengan peretasan ini sangat berpotensi memicu keresahan dari masing-masing pihak khususnya para pengguna internet untuk menggunakan internet secara aman dan sehat.

"Bahkan lebih jauh lagi hal ini dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dari situasi yang tidak jelas ini," Gatot menandaskan.

(ash/fyk)