"Susahnya karena kebanyakan perusahaan di Indonesia, pusatnya ada di luar negeri. Jadi untuk riset semuanya dilakukan di luar negeri, negara asal perusahaan tersebut," papar Indrawanto, Dosen Otomasi Industri Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, saat ditemui detikINET disela-sela acara Galelobot ITB 2009, di Aula Timur ITB, Jalan Ganesha No 10, Jumat (24/9/2009) sore.
Hal tersebut, imbuhnya, berdampak pada lambatnya perkembangan teknologi AI. Padahal AI dalam industri akan sangat bermanfaat, khususnya bagi industri. Walaupun saat ini aplikasi dari teknologi ini masih digunakan terbatas di industri manufaktur, namun di masa mendatang akan banyak digunakan kalangan industri yang lain seperti industri finansial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, menurut Indrawanto, secara tidak sadar AI banyak diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Indrawanto mencontohkan handphone yang sudah menjadi barang yang tidak bisa ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia. Pada dasarnya AI juga diterapkan di handphone tersebut.
"Saat ini handphone sudah bisa apa saja. Fungsi apa yang belum ada di handphone saat ini? Atau kamera digital saat ini yang menggunakan proses kontrol sensitivitas gerakan. Sudah banyak kamera yang tidak akan memfoto obyek yang tidak tersenyum. Itu ada AI yang ditanamkan di situ," terangnya berapi-api.
Indrawanto juga meyayangkan kondisi di mana tenaga kerja dibidang IT, khususnya di bidang AI, belum mendapatkan kesejahteraan yang layak. Padahal secara kemampuan dengan negara lain yang lebih maju, Indrawanto menjamin tenaga kerja di Indonesia tidak kalah bersaing.
"Misal di Jepang, yang negaranya sudah high tech. Memang secara value sangat jauh dibading dengan Indonesia. Tapi bukan hanya itu sebenarnya. Di sana (Jepang - red) hanya dengan bekerja, masyarakatnya bisa hidup layak. Disini, walaupun sudah bekerja tapi belum bisa dikatakan layak. Sehingga orang Jepang cenderung fokus, tidak dengan kita yang tidak bisa fokus dengan satu pekerjaan saja," pungkasnya.
(fyk/fyk)