Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Intel Klaim Laptop Aman dari Krisis RAM, Setidaknya Selama 2026

Intel Klaim Laptop Aman dari Krisis RAM, Setidaknya Selama 2026


Anggoro Suryo - detikInet

Candid of young asian single female student work late night stress out with project research problem on computer laptop or notebook at home office. Asian people occupational burnout syndrome concept.
Foto: Getty Images/ChayTee
Jakarta -

Di tengah melonjaknya permintaan chip memori akibat ekspansi besar-besaran data center AI, pasar laptop disebut masih relatif aman dari dampaknya. Intel menilai bisnis komputer portabel tidak akan terlalu terpengaruh krisis pasokan DRAM, setidaknya untuk satu tahun ke depan.

Dalam wawancara terbaru, Intel menyebut produsen laptop telah mengamankan stok komponen dalam jumlah besar jauh sebelum lonjakan permintaan memori terjadi. Hal ini membuat harga dan spesifikasi laptop diperkirakan tetap stabil, meski sebelumnya sejumlah analis memprediksi akan ada kenaikan harga tajam atau pemangkasan spesifikasi.

Senior Director of Product Management Intel, Nish Neelalojanan, mengatakan para OEM memiliki cadangan komponen yang cukup untuk 9 hingga 12 bulan ke depan. Stok ini dinilai cukup untuk meredam dampak krisis DRAM yang dipicu oleh kebutuhan AI data center.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Kalau ada yang bisa memprediksi pasar memori dengan akurat, orang itu pasti sudah kaya raya," ujar Neelalojanan sambil bergurau, seperti dikutip detikINET dari Techspot, Sabtu (17/1/2026).

Ia menjelaskan, industri PC memang terbiasa merencanakan produksi bertahun-tahun sebelumnya, termasuk mengunci pasokan komponen utama jauh sebelum produk diluncurkan. Strategi ini membuat produsen laptop berbasis platform Intel relatif terlindungi dari gangguan rantai pasok saat ini.

Spekulasi soal kenaikan harga laptop sempat mencuat saat Dell meluncurkan seri XPS terbaru. Namun Dell kemudian menjelaskan bahwa model yang dirilis lebih dulu adalah varian kelas atas, sementara versi dengan harga lebih terjangkau akan menyusul.

Intel juga mengklaim telah menyiapkan langkah teknis untuk mengurangi ketergantungan pada RAM. Salah satunya lewat prosesor Core Ultra Series 3 mendatang yang dibekali shared L3 cache lebih besar, mencapai 18MB, dan dapat diakses oleh core performa maupun efisiensi. Pendekatan ini diklaim mampu meningkatkan kinerja sekaligus menekan kebutuhan akses memori.

Di sisi lain, Microsoft disebut tengah mengembangkan alat baru untuk membantu pengembang memahami penggunaan RAM aplikasi secara lebih presisi. Upaya ini muncul di tengah kritik pengguna Windows terkait efisiensi dan stabilitas sistem operasi tersebut.

Situasi ini memunculkan spekulasi bahwa euforia AI bisa mulai mereda pada 2026. Sejumlah pihak menilai industri PC perlu kembali fokus pada kebutuhan nyata konsumen. Dell sendiri mengakui bahwa minat terhadap "AI PC" masih rendah, karena banyak pengguna lebih memprioritaskan performa, daya tahan baterai, dan harga dibanding fitur AI khusus yang dinilai belum relevan.

Untuk saat ini, Intel optimistis pasar laptop masih bisa bernapas lega, meski tekanan dari krisis memori global terus membayangi industri semikonduktor.




(asj/asj)







Hide Ads
LIVE