Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Citra Satelit Ungkap Iran Hantam Radar Canggih AS di Timur Tengah

Citra Satelit Ungkap Iran Hantam Radar Canggih AS di Timur Tengah


Fino Yurio Kristo - detikInet

Citra satelit tunjukkan kerusakan radar AS
Citra satelit 2 Maret 2026 menunjukkan puing mengelilingi radar THAAD yang menghitam di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania.Foto: CNN
Jakarta -

Citra satelit terbaru dari sejumlah pangkalan militer di Semenanjung Arab menunjukkan Iran tampaknya berupaya melemahkan sistem pertahanan udara buatan Amerika Serikat, THAAD, dengan menghancurkan radarnya yang berfungsi mendeteksi rudal dan drone.

Menurut citra satelit, sistem radar untuk baterai rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) milik AS di Yordania dilaporkan diserang dan tampaknya hancur pada hari-hari pertama serangan AS-Israel terhadap Iran.

Bangunan yang menampung sistem radar serupa juga terkena serangan di dua lokasi di Uni Emirat Arab, menurut analisis CNN yang dikutip detikINET, meski belum jelas apakah peralatan di sana mengalami kerusakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Radar tersebut merupakan elemen krusial dari sistem pencegat rudal canggih yang digunakan untuk menghadang dan menghancurkan rudal balistik saat meluncur ke target. AS mengoperasikan delapan baterai THAAD, sementara Uni Emirat Arab punya dua dan Arab Saudi satu.

Sistem yang diserang berada di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania, sekitar 800 kilometer dari Iran. Radar sistem THAAD adalah AN/TPY-2, radar portabel buatan Raytheon, dengan harga hampir setengah miliar dolar.

ADVERTISEMENT

Citra satelit menunjukkan dua kawah diameter sekitar 4 meter di pasir dekat radar tersebut. Ini mengindikasikan diperlukan beberapa kali upaya menghantamnya, yang terdiri dari lima trailer sepanjang sekitar 12 meter. Semua unit terlihat hancur atau rusak berat.

Radar dan baterai THAAD ini ditempatkan di Muwaffaq sejak setidaknya pertengahan Februari dan tampaknya diserang 1 atau 2 Maret. Pangkalan itu jadi pusat aktivitas militer AS. Dalam citra satelit sebelum konflik dimulai, lebih dari 50 jet tempur terlihat di landasan, bersama drone dan pesawat angkut. Puluhan hanggar mungkin juga menyimpan pesawat tambahan.

Radar THAAD itu mungkin bukan satu-satunya yang diserang di awal perang dengan Iran. Setidaknya tiga bangunan di instalasi militer dekat Ruwais dan empat bangunan di instalasi lain di Sader, keduanya di UEA, rusak antara 28 Februari dan 1 Maret. CNN menyimpulkan kedua lokasi menampung baterai dan radar THAAD berdasarkan analisis satelit.

Ahli mengatakan kerusakan radar tidak sepenuhnya membuat sistem THAAD tidak berfungsi, karena masih ada aset dan konfigurasi lain yang dapat digunakan. Namun kerusakan itu jelas mengurangi kemampuannya.

N.R. Jenzen-Jones, spesialis amunisi di Armament Research Services (ARES), mengatakan radar tersebut tak mudah diganti. "Radar AN/TPY-2 pada dasarnya jantung dari baterai THAAD, yang memungkinkan peluncuran rudal pencegat serta berkontribusi pada jaringan pertahanan udara terpadu," ujarnya.

"Selain itu, peralatan ini sangat mahal. Kehilangan bahkan satu radar saja jadi peristiwa signifikan secara operasional. Kemungkinan besar unit pengganti harus dipindahkan dari lokasi lain, yang tentu butuh waktu dan upaya," imbuhnya.

Menurut Jenzen, THAAD dapat melindungi area besar. "Namun sistem ini juga harus dilapisi sistem pertahanan udara lain seperti Patriot untuk memastikan perlindungan yang baik terhadap berbagai jenis ancaman serta perlindungan tambahan bagi baterai itu sendiri," tambahnya.

Serangan Iran terhadap pangkalan dan fasilitas militer AS di Semenanjung Arab tampaknya menargetkan peralatan komunikasi, radar, dan intelijen untuk memutus koneksi dari dunia luar. Citra satelit juga menunjukkan kerusakan sistem radar peringatan dini milik Qatar yang dibuat di AS.

"Demi keamanan operasional, kami tidak akan mengomentari status kemampuan spesifik di kawasan ini," sebut jubir Pentagon yang tidak menanggapi insiden ini secara rinci.




(fyk/fay)




Hide Ads