Rabu, 23 Mei 2018 10:44 WIB

Sanksi AS Bikin ZTE Sekarat dan Tekor Rp 44 Triliun

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Bagian dalam ponsel ZTE. Foto: Reuters Bagian dalam ponsel ZTE. Foto: Reuters
Jakarta - Kerugian yang sangat besar harus ditanggung oleh ZTE pasca hukuman dari pemerintah Amerika Serikat dijatuhkan kepadanya, belum lagi potensi denda yang harus dibayarnya.

Hukuman yang dijatuhkan pemerintah Amerika Serikat terhadap ZTE ternyata membuat perusahaan asal China tersebut terancam rugi besar. Pasalnya, dengan tak diizinkannya korporasi asal Negeri Paman Sam mengekspor atau menjual peralatan teknologi kepada salah satu vendor smartphone tersebut membuat operasional bisnisnya menjadi sangat terganggu.

Sebuah sumber menyebutkan bahwa ZTE diperkirakan bakal merugi paling tidak 20 miliar yuan, atau sekitar Rp 44,5 triliun, lantaran tidak bisa mendapatkan peralatan yang ia butuhkan untuk menjalankan bisnis. Angka tersebut kemungkinan merupakan hasil dari keputusan mereka dalam menyetop bisnis utamanya sejak awal bulan ini.



Selain itu, Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa ZTE juga bisa jadi harus membayar denda hingga USD 1,3 miliar (Rp 18,4 triliun) sebagai ganti dari pencabutan hukuman terhadapnya. Di samping itu, mereka juga diwajibkan melakukan perombakan besar di jajaran manajemen dan direksi.

Perombakan ini terkait kegiatan ZTE dalam melakukan pengiriman sejumlah komponen teknologi seperti chip ke Iran dan Korea Utara, yang merupakan akar masalah dari dijatuhkannya hukuman tersebut. Pemerintah AS beranggapan ZTE tidak menunjukkan sikap yang tegas dalam mengatasi masalah tersebut.

Pasalnya, perusahaan yang berkantor pusat di Shenzen tersebut sempat berjanji untuk memecat empat pegawai senior dan menghukum 35 karyawan lain dengan mengurangi bonus atau menjatuhi skors. Nyatanya, ZTE hanya melakukan pemecatan empat pegawai seniornya, sedangkan 35 karyawan yang terlibat dalam pengiriman ilegal tersebut lepas dari hukuman.

Pasca pelanggaran yang terbongkar pada tahun lalu, perusahaan yang berdiri pada 1985 tersebut juga harus membayar denda sekitar USD 1,19 miliar (Rp 16,8 triliun). Angka tersebut terdiri dari denda sebesar USD 890 juta (Rp 12,6 triliun), dengan tambahan penalti senilai USD 300 juta (Rp 4,2 triliun), sebagaimana detikINET kutip dari Reuters, Rabu (23/5/2018).



ZTE pun dilaporkan berharap AS dan China dapat sesegera mungkin mencapai kata sepakat dalam perjanjian terkait penghapusan hukuman tersebut. Selain itu, perusahaan yang juga menyediakan teknologi untuk layanan telekomunikasi ini juga berharap kedua negara memperbolehkan mereka langsung menjalankan pabrik miliknya dalam beberapa jam setelah hukuman resmi dicabut. (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed