Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Banjir Jakarta Sudah Kompleks, BRIN Punya Solusi Ampuh

Banjir Jakarta Sudah Kompleks, BRIN Punya Solusi Ampuh


Agus Tri Haryanto - detikInet

Banjir setinggi satu meter menggenangi permukiman warga di kawasan Jalan Pulo Indah Raya, RT 10 RW 08, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, Jumat (23/1/2026).
Foto: ANTARA/Risky Syukur
Jakarta -

Banjir masih menjadi persoalan berulang di Jakarta dan sekitarnya ketika musim hujan tiba yang skala dan dampaknya semakin meluas. Untuk mengurai persoalan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan solusi berbasis riset.

Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santoso, menegaskan bahwa banjir Jakarta bukan hanya disebabkan oleh curah hujan tinggi, melainkan merupakan persoalan kompleks yang melibatkan banyak faktor.

"Jika kita melihat data riset terkini, ada tiga pemicu utama yang saling berkaitan. Pertama, Jakarta mengalami penurunan permukaan tanah (land subsidence) dengan laju yang bervariasi, antara 1 hingga 15 sentimeter per tahun," ujar Budi dikutip dari pernyataannya dikutip dari website BRIN, Sabtu (7/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Kedua, curah hujan ekstrem dengan intensitas melampaui kapasitas sistem drainase. Ketiga, kondisi fisik infrastruktur drainase dan sungai yang tidak berfungsi maksimal karena tersumbat sampah dan pendangkalan. Kondisi ini secara drastis menurunkan kapasitas alir saluran atau sungai," kata Budi menambahkan.

Menurut Budi, sistem hidrologi Jakarta saat ini berada di bawah tekanan berat akibat berkurangnya kapasitas sungai dan kanal. Banyak saluran air mengalami pendangkalan akibat tumpukan sedimen dan sampah, sehingga debit air yang relatif kecil pun dapat memicu luapan.

Ia menekankan perlunya strategi terpadu antara jangka pendek dan jangka panjang.

"Untuk jangka pendek, terdapat beberapa prioritas yang mendesak. Pertama, penerapan sistem polder di seluruh wilayah dengan tingkat bahaya banjir tinggi. Kedua, optimalisasi sistem peringatan dini terintegrasi yang diolah dan dianalisis menggunakan metode terkini termasuk penggunaan algoritma artificial intellegence. Ketiga, pembangunan infrastruktur yang dapat menahan debit banjir di wilayah hulu," tuturnya.

BRIN juga mendorong pemanfaatan teknologi mutakhir, seperti Synthetic Aperture Radar (SAR) 2D dan 3D yang dikombinasikan dengan analisis multi-track InSAR, untuk memetakan fenomena penurunan tanah dan potensi banjir. Selain itu, kecerdasan buatan digunakan untuk memprediksi kenaikan muka air di Bendungan Katulampa berbasis data satelit.

"Solusi yang ditawarkan memang tidak mudah untuk dilaksanakan tetapi bukan berarti tidak mungkin. Yang dibutuhkan adalah komitmen politik lintas wilayah administrasi yang kuat, koordinasi antar-lembaga yang solid, dan partisipasi aktif masyarakat," tandas Budi.

Dari sisi iklim, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan, menyampaikan bahwa perubahan iklim turut meningkatkan frekuensi kejadian ekstrem, termasuk hujan ekstrem di Jakarta.

"Salah satu indikasi dampak terjadinya perubahan iklim adalah frekuensi terjadinya kejadian ekstrem semakin meningkat, satu di antaranya adalah curah hujan ekstrem di Jakarta, tepatnya awal tahun 2020 (31 Des 2019 - 01 Jan 2020), di mana tercatat curah hujan harian di Stasiun Pengamatan Halim Perdana Kusuma, Jakarta pada waktu itu tercatat sebesar 377 mm," ujarnya.

Eddy menambahkan, prediksi hujan ekstrem masih menjadi tantangan karena keterbatasan data beresolusi tinggi.

"Sebenarnya tidaklah mudah memprediksi terjadinya curah hujan ekstrem yang menyebabkan Jakarta dan kawasan sekitarnya lumpuh total pada saat itu. Hal ini disebabkan selain minimnya pengetahuan kita tentang gelombang atmosfer yang terjadi saat itu, juga keterbatasan kita dalam mendapatkan data beresolusi tinggi," jelasnya.

Saat ini, BRIN mulai mengembangkan pendekatan berbasis kecerdasan buatan.

"Sebelumnya kita menggunakan teknik konvensional (dikenal sebagai ARIMA), namun kini BRIN mencoba untuk menggunakan Mechine Learning, Deep Learning, AI, Big Data dan lainnya. Yang pernah dilakukan adalah bagaimana memprediksi anomali curah hujan menggunakan teknik Hybrid ARIMA-LSTM, selain didapat akurasi yang relatif lebih baik, juga jangkauan waktu prediksi yang relatif lebih jauh," ungkap Eddy.

Ia menekankan pentingnya membangun sistem peringatan dini yang berbasis multi-parameter, termasuk data satelit, radar cuaca BMKG, serta data in-situ.

"BRIN berkomitmen untuk fokus ke riset dan inovasi bagaimana membuat satu system peringatan dini yang utuh, runut, terpadu, menyeluruh didasarkan kepada hasil analisis yang tajam dan mendalam agar kita punya saving time. Diskusi ilmiah seperti inilah yang kita perlukan, agar dampak hujan esktrem dapat diredam seminimal mungkin melalui diskusi ilmiah dengan berbagai pakar baik yang ada di dalam ataupun di luar negeri," pungkas Eddy.




(agt/fay)







Hide Ads