Gugatan tersebut muncul lantaran sang pengguna yang tidak diketahui namanya ini mengklaim bahwa fitur monitoring detak jantung yang ada di perangkat Fitbit tidak akurat.
Sebagaimana diketahui, keakuratan monitoring detak jantung memiliki hasil yang bervariasi, dengan sebagian besar dari hasil implementasi hardware, software, dan tentu saja si penggunanya sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan demikian, butuh latihan ekstra keras agar pengguna bisa memahami serta melihat progres latihan. Tak cukup sampai di situ, penggugat juga pernah mencoba untuk mengembalikan perangkat Fitbit Charge HR dengan maksud mendapat ganti rugi yang hasilnya ditolak mentah-mentah oleh perusahaan.
Dengan segala macam keluhan yang dilontarkan, penggugat menuntut biaya kompensasi atas kerugian materil yang ia keluarkan untuk membeli perangkat. Sementara dari pihak Fitbit sendiri berencana untuk mengajukan pembelaan.
Tren wearable gadget memang bukan tren kemarin sore. Dari tahun 2014 sejumlah vendor berlomba-lomba untuk menciptakan wearable gadget seunik dan secanggih mungkin. Mulai dari smartwatch hingga fitness tracker, semua jenis perangkat wearable gadget mulai menghiasi pasar global.
(mag/ash)