"Kami ingin jadi merek top di bidang perangkat pintar dalam tahun-tahun mendatang. Setara dengan nama seperti Sony, Samsung atau Apple," kata LV Qianho, Global Marketing director ZTE Corporation di Hong Kong.
Qianho beberapa kali mengucap kalimat itu dalam konferensi pers bersama puluhan wartawan dari berbagai negara. Pria dengan aksen China kental ini memberi pesan jelas, ZTE tak mau lagi diremehkan, tidak mau lagi dianggap merek ponsel murahan.
Beberapa kali pula ia menyebut nama Apple dan Samsung hanya untuk mengklaim bahwa ponsel ZTE tidak kalah dengan buatan mereka. "Malah dalam beberapa sisi, ponsel kami lebih baik," katanya dengan meyakinkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bisnis Ponsel Bundling Menurun
Mungkin dalam benak banyak orang, ponsel ZTE identik dengan harga murah dan biasanya dijual dengan sistem bundling operator. Model bisnis seperti ini memang menguntungkan bagi ZTE. Kerja sama erat dengan operator dalam penyediaan ponsel memastikan pendapatan yang stabil.
"Secara tradisional, ZTE menjual handset melalui operator dan kami telah melakukannya dengan baik di area tersebut. Namun kami melihat kesempatan juga untuk menjual ponsel secara bebas," kata Ni Fei, Head of ZTE Nubia Unit.
Ya, ZTE menyadari bahwa di beberapa negara berkembang, pasar ponsel bundling tidak lagi seseksi dulu. Seperti di India, di mana operator enggan melakukan subsidi ponsel bundling.
"Operator telekomunikasi di India tidak mau menyepakati penjualan ponsel bundling skala besar karena margin keuntungan mereka mengecil dan membuat bisnis ponsel bundling di sana turun sampai 50%," kata Zhang Renjun, Senior Vice President ZTE.
Di sisi lain, pasar smartphone yang dijual tanpa subisidi operator dan tanpa kartu SIM semakin meningkat. Hal itu terjadi terutama di negara di mana bisnis ponsel bundling kurang populer, termasuk Indonesia.
Melihat kondisi tersebut, ZTE pun mulai serius untuk menggarap smartphone berkualitas tinggi dan dijual secara bebas, tidak melalui operator yang selama ini menjadi bisnis tradisional mereka.
Fokus Bikin Android Flagship Murah
ZTE kini mengikuti jejak vendor ponsel besar dengan mengeluarkan model flagship, yaitu model ponsel yang paling diandalkan dengan spesifikasi paling tinggi. Yaitu seri Grand S.
ZTE Grand S generasi pertama telah meluncur pada tahun 2012 lalu. Penerusnya, Grand S II muncul di salah satu pameran teknologi terbesar di dunia, Consumer Electronic Show (CES) 2014.
Kemunculan Grand S II di arena bergengsi CES 2014 memberi pesan jelas, flagship yang satu ini siap memberi ancaman. Pihak ZTE pun tidak takut membandingkannya dengan ponsel populer semacam Galaxy S4, bahkan Galaxy S5 yang belum keluar.
"Grand S II wujudnya cantik, desainnya slim, spesifikasi tinggi, sepertinya lebih baik kalau dibandingkan Galaxy S4. Mungkin baru bisa ditandingkan dengan Galaxy S5 nanti," tambah Qianho.
ZTE juga menciptakan pula brand ponsel baru bernama Nubia. Nubia bagi ZTE mungkin bisa disamakan dengan Lexus bagi Toyota atau Infiniti bagi Nissan. Ya, Nubia ditujukan untuk pasar premium atau menengah ke atas.
"Nubia adalah merek baru ZTE yang ingin mendobrak pasar smartphone menengah ke atas. Target pasarnya misalnya konsumen berusia muda dan kreatif," kata Ni Fei, General Manager Nubia ZTE Corporation.
Ponsel Nubia Z5S dan Z5 Mini diklaim memecahkan rekor pemesanan online di China, sebanyak 3,5 juta unit dan menumbangkan pencapaian yang sebelumnya diraih Xiaomi.
Dengan Nubia dan Grand S, ZTE merasa telah memiliki amunisi yang cukup handal untuk bertarung dengan jajaran ponsel premium dari pesaing. Terlebih, mereka akan menjualnya dengan harga murah.
"Ponsel kami harganya cukup jauh selisihnya dengan ponsel dari Samsung atau Apple, tapi kualitasnya sama atau bahkan lebih. Kenapa membeli yang mahal?" sebut Qianho.
Meningkatkan Brand Awareness
Di benak banyak orang, citra merek ZTE memang belum setara nama besar seperti Apple, Samsung atau Sony. Padahal ZTE merupakan raksasa telekomunikasi asal China yang sudah mendunia. Tak pelak, ZTE pun berjanji akan berusaha keras menaikkan brand awareness secara global.
"Budget marketing akan kami tingkatkan. Kami akan membuka toko khusus di mall agar konsumen bisa langsung mencoba ponsel ZTE. Kami juga menggandeng klub basket NBA, Houston Rockets," jelas Qianho.
ZTE memang tak mau lagi diidentikkan berkualitas rendah atau murahan, yang identik dengan manufaktur asal China. Belakangan, citra itu perlahan mulai terkikis karena vendor asal China seperti ZTE bekerja keras memperbaiki persepsi tersebut.
Dan jelas ZTE punya potensi besar. Saat ini pun secara global, ZTE termasuk vendor ponsel China yang paling dikenal dan berhasil mengapalkan 40 juta unit smartphone di tahun 2013.
Produk baru mereka seperti Grand S II dan Nubia Z5S, cukup banyak dipuji dalam berbagai review oleh pakar teknologi. Ditunjang dengan harga lebih murah dibanding pesaing, produk tersebut memang berpotensi menjadi hits. Mereka pun seakan masih jadi 'raksasa yang tidur' namun siap unjuk gigi.
Sayangnya, pasar smartphone sudah sedemikian ketat dan telah memakan beberapa korban nama besar. Selain brand besar seperti Samsung atau Apple yang harus dilawan ZTE, pesaing asal China seperti Huawei, Xiaomi, sampai Lenovo terus menunjukkan taringnya. Mau tidak mau, ZTE memang harus bangun dari tidurnya untuk bekerja sangat keras mencapai ambisinya agar tak cuma jadi jago kandang. (fyk/ash)