Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Jensen Huang Kritik Narasi Kiamat AI: Malah Bikin AI Berbahaya

Jensen Huang Kritik Narasi Kiamat AI: Malah Bikin AI Berbahaya


Anggoro Suryo - detikInet

Jensen Huang ikut mendirikan Nvidia pada tahun 1993 dan menjabat sebagai CEO dan presidennya. Ia memiliki sekitar 3% saham perusahaan yang ia bawa ke bursa saham pada tahun 1999.
CEO Nvidia Jensen Huang. Foto: Adi Fida Rahman/detikinet
Jakarta -

Sejak ChatGPT dirilis ke publik, kecerdasan buatan generatif tak pernah lepas dari kontroversi. Dari kekhawatiran hilangnya jutaan pekerjaan hingga skenario kiamat ala fiksi ilmiah, narasi negatif soal AI terus menguat. CEO Nvidia Jensen Huang menilai pendekatan tersebut justru merugikan.

Dalam wawancaranya di podcast No Priors, Huang secara terbuka mengkritik narasi kiamat AI. Menurutnya, framing semacam itu tidak membawa dampak positif bagi masyarakat, industri, maupun pemerintah.

Huang mengatakan adu narasi antara pihak yang melihat AI sebagai kekuatan positif dan mereka yang menganggapnya ancaman besar menjadi salah satu pelajaran terbesarnya sepanjang 2025. Meski ia mengakui pandangan pro dan kontra sama-sama tidak bisa disederhanakan, Huang menilai sebagian kritik terhadap AI sudah melampaui batas rasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita sudah melakukan banyak kerusakan dengan narasi akhir dunia yang datang dari orang-orang sangat dihormati," kata Huang. Ia menilai narasi tersebut lebih menyerupai fiksi ilmiah ketimbang diskusi konstruktif, dan justru menciptakan ketakutan yang tak perlu.

ADVERTISEMENT

Meski tak menyebut nama, pernyataan Huang mengingatkan pada perdebatan publiknya dengan CEO Anthropic, Dario Amodei, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (12/1/2026).

Tahun lalu, Amodei memperingatkan AI berpotensi menghapus hingga setengah pekerjaan kerah putih level pemula dalam lima tahun. Huang saat itu menyatakan dirinya tidak setuju dengan semua pernyataan tersebut.

Dalam podcast yang sama, Huang kembali menyindir perusahaan AI yang mendorong regulasi ketat. Menurutnya, perusahaan semacam itu memiliki konflik kepentingan. Ia menegaskan tak ada perusahaan yang seharusnya meminta pemerintah memperketat aturan AI demi kepentingannya sendiri.

Ketegangan antara Nvidia dan Anthropic juga sempat mencuat terkait aturan pembatasan ekspor teknologi AI ke China. Anthropic mendukung pengawasan ketat, sementara Nvidia membantah tudingan soal penyelundupan chip canggih ke negara tersebut.

Huang juga memperingatkan bahwa dominasi narasi negatif justru bisa mempercepat terwujudnya skenario terburuk. Menurutnya, ketakutan berlebihan membuat investor ragu berinvestasi pada AI yang lebih aman, produktif, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

"Kalau 90% pesan yang beredar soal AI adalah pesimisme dan kiamat, orang akan takut berinvestasi pada AI untuk membuat teknologi ini lebih aman, lebih fungsional, lebih produktif, dan lebih berguna untuk masyarakat" ujarnya.




(asj/fay)




Hide Ads