Kena PHP Elon Musk Rp 659 Triliun, Twitter Tabuh Genderang Perang

ADVERTISEMENT

Kena PHP Elon Musk Rp 659 Triliun, Twitter Tabuh Genderang Perang

Fino Yurio Kristo - detikInet
Minggu, 10 Jul 2022 10:25 WIB
FILE - Tesla CEO Elon Musk attends the opening of the Tesla factory Berlin Brandenburg in Gruenheide, Germany on March 22, 2022. Musk says his deal to buy Twitter can’t ‘move forward’ unless the company shows public proof that less than 5% of the accounts on the platform are fake or spam. Musk made the comment in a reply to another user on Twitter early Tuesday, May 17, 2022. (Patrick Pleul/Pool Photo via AP, File)
Elon Musk batal Twitter. Foto: AP/Patrick Pleul
Jakarta -

Dulu seakan benar-benar serius ingin membeli Twitter USD 44 miliar atau sekitar Rp 659 triliun, Elon Musk mendadak mundur. Sebenarnya bukan mendadak, ia sudah memberi sinyal-sinyal kurang mantap mengakuisisi media sosial itu. Pihak Twitter pun dipastikan siap berperang.

Dalam surat pada SEC (Securities and Exchange Commission), Mike Ringler selaku pengacara Elon Musk menuduh Twitter melanggar perjanjian merger karena tidak menyediakan informasi data yang cukup mengenai jumlah akun palsu atau spam.

Pada intinya, pihak Elon Musk menilai Twitter tidak transparan dalam menghitung akun spam atau bot di layanannya, padahal info itu dinilai sangat pentingterhadap performa bisnis dan keuangan Twitter.

Seperti dikutip detikINET dari CNBC, pakar hukum menyebut keinginan Musk membatalkan pembelian Twitter tidak akan berjalan mudah. Bahkan dia akan menghadapi pertarungan panjang di pengadilan, mungkin berbulan-bulan.

"Direksi Twitter tidak bisa langsung misalnya menurunkan harga atau setuju agar Elon Musk membayar USD 1 miliar karena mundur," sebut Ann Lipton, profesor hukum di Tulane Law School.

Ada indikasi Elon Musk akan melanjutkan pembelian Twitter jika harganya diturunkan dan sebelumnya juga ada kesepakatan ia akan membayar denda USD 1 miliar jika batal. Namun sepertinya tidak akan semudah itu.

Jika Twitter membiarkan Elon Musk lolos begitu saja, pemegang saham Twitter berpotensi melancarkan gugatan hukum ke mereka. Di sisi lain, argumen Elon Musk tentang mengapa dia batal membeli Twitter dinilai lemah. Artinya, bisa saja Twitter menang di pengadilan nanti.

"Elon Musk melontarkan beberapa argumen legal, saya pikir semuanya masih patut dipertanyakan. Dia awalnya fokus soal bot di platform tapi juga soal performa perusahaan, jadi dia seperti melempar semuanya saja," kata Adam Sterling, pengamat hukum.

Pihak Twitter sudah memastikan menuntut Elon Musk. Hal tersebut disampaikan Kepala Dewan Independen Twitter Bret Taylor merespon keputusan mengejutkan orang terkaya di dunia itu.

"Dewan Twitter berkomitmen untuk menutup transaksi dengan harga dan persyaratan yang disepakati dengan Elon Musk dan berencana untuk mengambil tindakan hukum untuk menegakkan perjanjian merger," kata Taylor di akun Twitternya.



Simak Video "Analis Sebut Polemik Twitter Vs Elon Musk Seperti 'Game of Thrones'"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fyk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT