Huawei Optimis Bisnis Ponselnya Bakal Kembali Meraja

Huawei Optimis Bisnis Ponselnya Bakal Kembali Meraja

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Kamis, 19 Agu 2021 09:45 WIB
LAS VEGAS, NV - JANUARY 09:  The Huawei logo is display during CES 2018 at the Las Vegas Convention Center on January 9, 2018 in Las Vegas, Nevada. CES, the worlds largest annual consumer technology trade show, runs through January 12 and features about 3,900 exhibitors showing off their latest products and services to more than 170,000 attendees.  (Photo by David Becker/Getty Images)
Foto: David Becker/Getty Images
Jakarta -

Chairman Huawei Guo Ping optimis kalau Huawei bakal bisa membangun kembali bisnis ponselnya, dan tak akan menyerah dalam menggarap sektor tersebut.

Bisnis ponsel Huawei saat ini masih terpuruk, atau tepatnya makin terpuruk, setelah mereka dimasukkan ke dalam daftar hitam oleh pemerintah Amerika Serikat pada 2019 lalu, saat Donald Trump masih menjabat sebagai presiden.

Nasib mereka tak membaik setelah Trump digantikan oleh Joe Biden, yang ternyata masih melanjutkan berbagai pelarangan terhadap Huawei. Seperti dilarangnya perusahaan asal AS ataupun perusahaan yang menggunakan teknologi asal AS untuk berbisnis dengan Huawei.

"Semua orang tahu kalau chip ponsel butuh teknologi canggih dengan ukuran kecil dan konsumsi daya rendah. Huawei bisa mendesain (chip) seperti itu, namun tak ada yang bisa membantu kami memproduksinya. Kami terhambat," ujar Guo dalam sebuah sesi wawancara.

Namun Guo optimis kalau masalah tersebut sebenarnya bisa diatasi, seperti dikutip detikINET dari Reuters, Kamis (19/8/2021).

"Huawei akan terus eksis di ranah ponsel dan dengan peningkatan di produksi chip, takhta (Huawei) di bisnis ponsel akan kembali diraih," pungkasnya.

Huawei pada zamannya adalah pabrikan ponsel terbesar di dunia, namun kini mereka sudah tak lagi ada di daftar lima besar pembuat ponsel dengan market share terbesar di China, yaitu pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir.

Untuk mengatasi hantaman dari AS, Huawei sampai melepas unit bisnis Honornya pada November 2020 lalu. Tujuannya tentu untuk menjaga agar bisnis mereka tetap bisa berjalan.

Pemasukan Huawei sendiri pada pertengahan pertama 2021 merosot 29%, penurunan pemasukan mereka yang terbesar dalam sejarah. Penurunan terbesar jelas terjadi dari sektor consumer, yang di dalamnya ada bisnis ponsel, yaitu merosot 47% persent menjadi USD 21 miliar.



Simak Video "Huawei Boyong MateBook D14 dan D15 ke Indonesia, Apa Kelebihannya?"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fyk)