Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Review JBL Sense Pro: Open Ear yang Nggak Cuma Buat Podcast

Review JBL Sense Pro: Open Ear yang Nggak Cuma Buat Podcast


Anggoro Suryo - detikInet

JBL Sense Pro
JBL Sense Pro. Foto: detikINET/Anggoro Suryo Jati
Daftar Isi
Jakarta -

Desain open ear biasanya identik dengan kompromi. Suaranya tipis, bass kurang, dan lebih cocok dipakai buat dengar podcast sambil tetap sadar lingkungan sekitar. Tapi JBL Sense Pro datang dengan pendekatan berbeda.

Ini adalah model paling tinggi dari lini open ear baru JBL, dan di generasi pertamanya saja sudah terasa ambisius. Sense Pro bukan earbuds yang masuk ke liang telinga, melainkan menempel di luar, dengan bentuk hook yang melingkari telinga seperti perangkat circumaural mini.

Awalnya terdengar aneh: speaker kecil yang menggantung dekat telinga, tanpa isolasi, apa bisa terdengar serius buat musik? Ternyata, hasilnya mengejutkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Desain Hook yang Fungsional

JBL Sense Pro memakai desain pengait yang bukan cuma untuk kenyamanan. Karena unitnya tidak "mengunci" di dalam telinga, hook ini memastikan earbuds tetap stabil saat dipakai berjalan atau aktivitas ringan.

Yang menarik, versi Pro punya modul belakang seperti pendant kecil. Ini bukan sekadar tempat baterai, tapi juga sensor getaran tulang. JBL memakainya untuk mendeteksi saat pengguna berbicara, sehingga sistem noise cancellation untuk panggilan bisa bekerja lebih efektif.

Ide ini terasa cerdas: bukan sekadar menambah mikrofon, tapi memanfaatkan vibrasi suara pengguna langsung dari tulang.

Kualitas Suara: Bass-nya Nggak Main-main

Bagian paling mengejutkan dari Sense Pro adalah kualitas audionya. Ekspektasi awal untuk open ear biasanya suara terdengar jauh dan "kosong". Tapi di sini bass justru terasa kuat, dengan karakter yang cukup hangat dan dekat.

Memang, ini belum setara dengan earbuds premium ber-ANC penuh yang benar-benar menutup telinga. Tapi untuk kategori open ear, Sense Pro terasa jauh lebih serius dari sekadar perangkat "sekunder".

Buat musik santai, kerja, atau jalan sore, performanya lebih dari cukup. Bahkan musik klasik atau track dengan detail instrumen masih terdengar bersih.

Pengalaman Pakai: Tetap Awas dengan Sekitar

Keunggulan utama open ear tetap ada: kamu tidak terisolasi. Sense Pro cocok buat situasi di mana kamu ingin mendengar musik tapi tetap sadar suara lingkungan.

Misalnya saat memasak, bekerja di kantor, atau jalan di alam terbuka. Suara burung, angin, atau ambience kafe masih masuk, dan itu justru jadi bagian pengalaman.

Untuk urusan call, JBL Sense Pro terasa melompat dibanding open ear lain. Sensor getaran tulang membantu menangkap suara pengguna lebih konsisten, terutama di tempat bising.

Meski di kondisi ekstrem suara kadang terdengar sedikit "diproses" atau seperti AI, hasilnya membaik saat dipakai di tempat lebih tenang. Dan dibanding hanya mengandalkan banyak mikrofon, pendekatan JBL ini terasa efektif.

Fitur Modern Lengkap

Sense Pro juga sudah membawa fitur kelas atas:

  • Bluetooth 6.0
  • Auracast
  • Multipoint connection
  • Hi-Res Audio
  • IP54 tahan debu dan cipratan air
  • Wireless charging
  • Baterai 8 jam + 30 jam dari charging case

Kesimpulan

Ada beberapa hal yang terasa wajar untuk iterasi awal. Posisi terbaik untuk suara perlu sedikit penyesuaian setiap kali dipakai ulang, dan saat mengatur clamp kecil itu, touch control kadang kepencet tanpa sengaja.

JBL Sense Pro adalah open ear yang terasa matang sejak awal. Suaranya tidak sekadar pas-pasan, tapi relatif menyenangkan untuk musik. Desainnya fungsional, dan sensor getaran tulang memberi nilai tambah nyata untuk panggilan.

Ini bukan pengganti earbuds ANC untuk kereta atau pesawat, tapi sebagai pelengkap untuk aktivitas sehari-hari yang lebih terbuka.






(asj/rns)




Hide Ads