Cypto Kena Efek COVID-19 Tapi Masih Potensial Jadi Mata Uang Masa Depan

Cypto Kena Efek COVID-19 Tapi Masih Potensial Jadi Mata Uang Masa Depan

Aisyah Kamaliah - detikInet
Senin, 31 Agu 2020 18:32 WIB
LONDON, ENGLAND - APRIL 25: In this photo illustration of the litecoin, ripple and ethereum cryptocurrency altcoins sit arranged for a photograph beside a smartphone displaying the current price chart for ethereum on April 25, 2018 in London, England. Cryptocurrency markets began to recover this month following a massive crash during the first quarter of 2018, seeing more than $550 billion wiped from the total market capitalisation. (Photo by Jack Taylor/Getty Images)
Mata uang crypto terdampak COVID-19 namun dipercaya masih punya potensi baik. Foto: Jack Taylor/Getty Images
Jakarta -

Cryptocurrency diperkirakan akan bersinar meski digoyang pandemi COVID-19 dan masih berpotensi jadi mata uang masa depan. Tak cuma itu, nilai dari mata uang crypto ini diharapkan bisa mencegah oversupply uang cetak di masyarakat.

Kendati aset di dunia mengalami penurunan nilai, bahkan untuk aset menjanjikan seperti emas dan bitcoin, Co-founder Messari Dan McArdle mengatakan bahwa banyak orang gagal paham dan meremehkan proposisi nilai cryptocurrency.

"Jika mereka (bank global) berhasil mencegah penurunan harga aset lebih lanjut, likuiditas baru mungkin akan mencari aset langka seperti bitcoin," ucapnya.

Cryptocurrency sendiri merupakan mata uang digital yang melalui proses pembuatan dengan teknik enkripsi dan dikelola oleh jaringan peer to peer. Saat ini ada ratusan cryptocurrency yang ada dan beredar di seluruh dunia dan yang paling dikenal adalah Bitcoin.

Max Lautenschläger, mitra pengelola dan salah satu pendiri Iconic Holding, kendati studi dalam keuangan perilaku menunjukkan bahwa orang cenderung mengubah semua aset likuid menjadi uang tunai untuk bersiap menghadapi krisis yang akan datang karena COVID-19, crypto masih merupakan kelas aset berkinerja terbaik tahun 2020.

"Dengan kebijakan moneter ECB, FED, dan BoJ, Anda dapat dengan jelas melihat semakin banyak orang hilang kepercayaan pada kebijakan bank sentral dan uang dalam desainnya saat ini. Inilah mengapa crypto lahir pada tahun 2009 sebagai reaksi terhadap krisis keuangan," tuturnya mengutip Finovate.

Sementara itu melansir Verdict, The Deutsche Bank memprediksi crypto sebagai mata uang di masa depan.

"Cryptocurrency pasti memiliki potensi untuk menggantikan uang tunai dalam 10 tahun ke depan," kata Peter Wood, CEO CoinBurp.

"Pengadopsian massal pemegang dompet blockchain menyusul penurunan publik dalam penggunaan tunai, kepercayaan yang goyah di bank-bank modern dan sistem fiat yang rapuh hanya akan meningkat dikarenakan legitimasi dan popularitas mata uang digital terus melesat," sambungnya.

Meningkatnya minat perusahaan teknologi besar dalam cryptocurrency, seperti Facebook dengan peluncuran Libra, kemungkinan akan membantu pemasaran crypto. Namun, masih ada banyak rintangan yang harus diatasi.

"Mereka harus menjadi sah di mata pemerintah dan regulator. Itu berarti membawa stabilitas harga dan membawa keuntungan bagi pedagang dan konsumen," kata Marion Laboure, dosen Ekonomi dan Keuangan Harvard University dalam laporan Deutsche Bank.

Nah kalau menurutmu bagaimana detikers, apakah kamu masih akan melakukan investasi dalam bentuk cryptocurrency?



Simak Video "Prediksi NTT: Nilai Tukar Bitcoin Turun, Cryptojacking Ditinggalkan"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)