Rabu, 16 Jan 2019 07:20 WIB

Anak Ditahan, Bos Huawei Malah Puji Donald Trump

Adi Fida Rahman - detikInet
Ren Zhengfei - Pendiri dan CEO Huawei. Foto: AFP PHOTO / FABRICE COFFRINI Ren Zhengfei - Pendiri dan CEO Huawei. Foto: AFP PHOTO / FABRICE COFFRINI
Jakarta - Ren Zhengfei akhirnya angkat bicara soal permasalahan yang menimpa Huawei. Kendati mendapat tekanan berat dari Amerika Serikat dan berbuntut penahanan putri tercintanya -Meng Wanzhou-, pendiri sekaligus CEO Huawei itu malah memuji Donald Trump.

"Trump adalah presiden yang hebat," kata Ren saat sesi interview dengan sejumlah media asing, dikutip dari Business Insider, Rabu (16/1/2019).


"Dia berani memotong pajak secara besar-besaran, yang akan menguntungkan bisnis. Tetapi kamu harus memperlakukan perusahan dan negara dengan baik sehingga mereka mau berinvestasi di AS dan pemerintag bisa memunut cukup pajak," imbuhnya.

Pernyataan Ren ini seolah mengomentari masuknya Huawei dalam daftar hitam di Negeri Paman Sam. Seperti kita ketahui pemerintah AS telah melarang perangkat-perangkat Huawei untuk digunakan. Salah satu alasannya Huawei dituding sebagai saluran mata-mata China.

"Tidak ada undang-undang yang mewajibkan perusahaan di China untuk memasang pintu belakang. Saya pribadi tidak akan pernah merugikan kepentingan pelanggan. Saya dan perusahaan tidak akan menjawab permintaan tersebut (mata-mata)," tegas Ren.

"Saya mencintai negara saya, saya mendukung Partai Komunis. Tetapi saya tidak akan melakukan apa pun untuk menyakiti dunia. Saya tidak melihat hubungan yang erat antara keyakinan politik pribadi saya dan bisnis Huawei," lanjut pria berusia 74 tahun itu.


Kepada wartawan, Ren ingin menumbuhkan semangat kolaborasi dengan AS. "Pesan ke AS yang ingin saya komunikasikan adalah: Kolaborasi dan kesuksesan bersama. Di dunia teknologi yang begitu canggih, semakin tidak mungkin hanya satu perusahaan atau negara bisa mempertahankan atau mendukung kebutuhan dunia."

Ren pun berusaha mengecilkan peran Huawei dalam ketegangan hubungan China dan AS. "Huawei hanya benih wijen dalam konflik perdagangan antara Cina dan AS," ujarnya.

Kemunculan Ren dan berbicara ke publik sangat jarang terjadi. Interview terakhir yang dilakukannya pada 2015 silam. Krisi yang dialami Huawei nampaknya memaksa Ren turun gunung. (afr/afr)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed