Senin, 20 Agu 2018 18:17 WIB

Saingan Go-Jek di Vietnam Bukan Cuma Grab

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Para driver Go-Viet, jelmaan Go-Jek. Foto: Facebook CLB Go-Viet HCM Para driver Go-Viet, 'jelmaan' Go-Jek. Foto: Facebook CLB Go-Viet HCM
FOKUS BERITA Go-Jek Jadi Go-Viet
Jakarta - Sebelum dikuasai oleh Go-Jek dan Grab, persaingan penyedia layanan berbagi tumpangan di Indonesia diramaikan oleh sejumlah pelaku. Nama-nama seperti Uber, Blu-Jek, LadyJek, hingga TopJek sempat mewarnai pemberitaan soal persaingan antar platform ridesharing di dalam negeri.

Jika di Indonesia persaingan sudah mengerucut ke dua nama saja, beda halnya dengan di Vietnam. Negara yang beribu kota di Hanoi ini masih diwarnai dengan banyak nama di sektor tersebut.


Selain Grab dan Go-Viet, di sana ada Aber, MVL, FastGo, VATO, dan Mai Linh Bike. Menariknya, sama seperti 'jelmaan' Go-Jek, kelimanya juga terhitung sebagai pemain baru di sana.

Aber dapat dikatakan jadi yang paling senior diantara nama-nama tersebut. Platform ini sudah didirikan sejak 2015 lalu oleh para teknisi muda asal Vietnam yang sedang belajar di Eropa. Satu catatan, namanya bukan plesetan dari Uber, namun kepanjangan dari am besten bahrer, kalimat dalam Bahasa Jerman yang berarti pengemudi terbaik.

Lalu, pada 8 Juni, aplikasinya mulai diperkenalkan. Di dalamnya terdapat enam layanan, yaitu Aber Bike, Aber Car, Aber Truck, Aber Travel, Aber Business, dan Aber Express. Sama seperti Go-Viet, penyedia layanan ridesharing ini identik dengan warna merah.

Kemudian, ada Mass Vehicle Ledger (MVL) yang merupakan perusahaan asal Singapura. Mereka dikabarkan sudah mulai merekrut pengemudi sejak Juni dan meluncurkan aplikasinya sebulan setelahnya.

Menariknya, MVL tidak menerapkan sistem komisi pada driver untuk meraup untung. Mereka akan menjual data yang sudah dikumpulkan dari operasional sehari-harinya kepada, misalnya, pelaku survey pasar, lewat teknologi blockchain.


FastGo jadi pesaing Go-Viet berikutnya. Mereka sudah memperkenalkan aplikasinya sejak Juni mulai mengaspal di Ho Chi Minh sebulan setelahnya, sebagaimana detikINET kutip dari Vietnam News, Senin (20/8/2018).

Bahkan, mereka juga sudah ekspansi ke kota Da Nang mulai bulan ini. FastGo memiliki tiga layanan utama, yaitu Fast Car, Fast Taxi, dan Fast Luxury, yang kesemuanya merupakan layanan ridesharing menggunakan mobil, hanya kelas mobilnya saja berbeda.

Lalu, ada VATO yang merupakan pemain baru tapi lama. Platform ini sejatinya sudah berdiri sejak Maret 2016 dengan nama FastCar, lalu berganti identitas menjadi Vivu. Barulah pada April lalu mereka berganti nama menjadi seperti saat ini.

Menariknya, pengguna VATO bisa melakukan negosiasi dengan driver mengenai biaya perjalanan. Selain itu, mirip dengan yang dilakukan Go-Jek dengan Blue Bird di sini, aplikasi VATO juga bisa memesan taksi dari perusahaan lain.


Terakhir, ada perusahaan transportasi lokal bernama Mai Linh. Setelah menawarkan sejumlah moda transportasi seperti taksi dan bus, mereka juga sudah meluncurkan platform bernama Mai Linh Bike yang telah menjaring driver sejak April lalu.

Sudah lebih dari dua minggu 'jelmaan' Go-Jek bernama Go-Viet beroperasi di Vietnam. Sejauh ini, sejak diluncurkan pada 1 Agustus lalu, penyedia jasa berbagi tumpangan itu diklaim sudah mendapatkan 15% market share di Ho Chi Minh. Menarik untuk ditunggu bagaimana kiprahnya menghadapi sesama pendatang baru serta nama besar Grab di sana. (mon/rou)
FOKUS BERITA Go-Jek Jadi Go-Viet

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed